Landasan Hadis


Hadis

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟

قَالَ:

“الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ”.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: “Wanita yang bagaimanakah yang paling baik?”

Beliau ﷺ menjawab:

“Yaitu yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya pada dirinya dan hartanya dengan sesuatu yang dibenci oleh suaminya.”

Fiqhul Hadis (penjelasan):

Hadis ini merinci bentuk konkret ketaatan istri: menjaga penampilan dan sikap yang menyenangkan suami, taat pada perintah kebaikan, serta menjaga harta dan kehormatan diri.