hadis dan fighul hadis


 Hadis 1

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ـ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

قَالَ:

” كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ـ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ ـ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. “

Setiap kalian adalah pemimpin (pemelihara) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam (penguasa) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang perempuan (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan diminta pertanggungjawaban atas urusan rumah tangganya. Seorang pembantu (pekerja) adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan diminta pertanggungjawaban atas urusan tugasnya.”

(Nafi’ berkata: Aku mengira beliau juga bersabda):

“Dan seorang laki-laki (anak) adalah pemimpin atas harta ayahnya dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.

Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

 

Fiqhul Hadis (penjelasan):

Hadis ini menjadi dasar utama konsep hak dan kewajiban dalam keluarga: setiap anggota keluarga -suami, istri, dan kelak anak yang telah balig- memiliki wilayah kepemimpinan dan tanggung jawab masing-masing. Hak salah satu pihak pada dasarnya adalah kewajiban pihak lain, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah, bukan sekadar urusan duniawi.

 

Hadis 2

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Telah menceritakan kepada kami Hannad, menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid, dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman, dari ‘Atha’, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Perawi (dari sahabat): Aisyah ra (dalam sebagian riwayat melalui Ibnu Abbas) “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya), dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku

Fiqhul Hadis (penjelasan)

Tolak ukur kebaikan seorang muslim, menurut hadis ini, tidak diukur dari ibadah ritual semata, melainkan juga dari kualitas perlakuannya terhadap keluarga sendiri. Rasulullah .menjadikan dirinya sebagai teladan tertinggi dalam menunaikan hak-hak keluarga