Landasan Al Quran


Ayat 1

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ۝٧٤

Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan (25): 74)

 

Ayat 2

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝١

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. At-Taghabun (64): 14)

 

Analisis Gabungan Seluruh Ayat:

Keluarga memiliki dua potensi besar. Di satu sisi, jika hak-hak anggota keluarga terpenuhi dengan landasan takwa, mereka akan menjadi penyejuk mata (qurrata a’yun) dan sumber keteladanan sosial (QS. Al-Furqan: 74). Namun di sisi lain, keluarga juga bisa menjadi ujian atau “musuh” jika cinta yang berlebihan kepada mereka justru membuat kita lalai dari aturan Allah atau menghalalkan segala cara demi menuruti keinginan mereka (QS. At-Taghabun: 14).

Untuk mencapai keluarga yang ideal dan selamat dari ujian tersebut, seorang mukmin dituntut untuk selalu waspada dan tegas dalam prinsip agama, namun tetap menghadapi dinamika atau kesalahan keluarga dengan pendekatan yang penuh maaf, kelapangan dada, dan bimbingan yang santun.