حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي قَزَعَةَ الْبَاهِلِيِّ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْقُشَيْرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ (مُعَاوِيَةَ بْنِ حَيْدَةَ)، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟
قَالَ:
نْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Abu Qaza’ah Al-Bahili, dari Hakim bin Mu’awiyah Al-Qusyairi, dari ayahnya (Mu’awiyah bin Haidah), ia berkata: Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang di antara kami yang wajib dipenuhi oleh suaminya?’
Beliau bersabda:
“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah(nya), janganlah engkau menjelek-jelekkannya (mencelanya), dan janganlah engkau mendiamkannya (boikot/hajar) kecuali di dalam rumah.”
Fiqhul Hadis(penjelasan):
Hadis ini merinci hak dasar istri yang wajib dipenuhi suami: pangan, sandang, dan perlindungan dari kekerasan fisik maupun verbal.