وَقَالَ الْمَلِكُ اِنِّيْٓ اَرٰى سَبْعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعَ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍۗ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ اَفْتُوْنِيْ فِيْ رُءْيَايَ اِنْ كُنْتُمْ لِلرُّءْيَا تَعْبُرُوْنَ
Raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus serta tujuh tangkai (gandum) yang hijau (dan tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai para pemuka kaum, jelaskanlah kepadaku tentang mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkannya!”
بَقَرٰتٍ = sapi- sapi ( mufrodnya dari lafadz بَقَرَةِ )
سُنْۢبُلٰتٍ =tangkai -tangkai (gandum)
يٰبِسٰتٍۗ = kering
قَوْلُهُ تَعَالَى: (سَبْعَ بَقَراتٍ سِمانٍ )حُذِفَتِ الْهَاءُ مِنْ “سَبْعَ” فَرْقًا بَيْنَ الْمُذَكَّرِ وَالْمُؤَنَّثِ “سِمانٍ” مِنْ نَعْتِ الْبَقَرَاتِ، وَيَجُوزُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانًا، نَعْتٌ لِلسَّبْعِ، وَكَذَا خُضْرًا (تفسير القرطبي — القرطبي (٦٧١ هـ)
Firman Tuhan Yang Maha Kuasa: “Tujuh sapi gemuk” – huruf “h” terakhir dihilangkan dari “tujuh” untuk membedakan antara bentuk mudzakar dan muanas . “Gemuk” adalah kata sifat yang menggambarkan sapi-sapi tersebut. Di luar Al-Quran, diperbolehkan untuk mengatakan “tujuh sapi gemuk,” sebagai kata sifat yang menggambarkan tujuh ekor sapi, dan demikian pula “hijau.”