Etika kepemimpinan dan mentoring


Surah Al-Furqan: 74

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” ( Qs. Al-Furqan: 74)

Surah Al-Maidah ayat 2

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ 

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.

Penjelasan:

Dalam ayat yang agung ini, para Ibadurrahman (hamba pilihan Allah) memanjatkan doa yang unik melalui QS. Al-Furqan: 74. Mereka tidak meminta jabatan untuk kesombongan, melainkan meminta agar dijadikan “Imam” atau pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Ini berarti kepemimpinan harus berbasis pada kualitas moral dan keteladanan. Bagi seorang karyawan, menjadi pemimpin (baik secara formal maupun senioritas) berarti bertanggung jawab untuk membimbing orang lain menuju kualitas kerja yang lebih baik.
​Perintah ini diperkuat oleh QS. Al-Ma’idah: 2 yang mewajibkan kita untuk saling menolong dalam kebajikan. Mentoring adalah implementasi nyata dari sinergi kedua ayat ini; yaitu upaya kolaboratif untuk mengangkat derajat orang lain agar mencapai standar kebaikan yang sama atau bahkan lebih tinggi dari kita. Kepemimpinan yang diberkati adalah kepemimpinan yang tidak membiarkan rekannya tertinggal dalam ketidaktahuan.

​Di dunia kerja, sering kali kita terjebak dalam rasa takut: “Kalau saya ajarkan semua rahasia sukses saya kepada junior, nanti posisi saya terancam.” Akibatnya, senior menjadi pelit berbagi informasi, sementara junior merasa tersesat tanpa arah. Ini adalah mentalitas “Kelangkaan” (Scarcity Mindset) yang menghambat keberkahan.
​Seorang Karyawan Rabbani memahami filosofi Lilin. Saat sebuah lilin menyalakan lilin lain yang padam, cahaya di ruangan itu justru menjadi semakin terang tanpa mengurangi sedikit pun api pada lilin pertama. Itulah hakikat Mentoring. Ketika Anda (Senior) membimbing junior, Anda tidak sedang menciptakan saingan, tapi sedang membangun “Amal Jariyah Profesional”.

Bagi Anda (Junior), sikap hormat dan haus akan ilmu adalah kunci pembuka “gudang pengalaman” para senior. Kepemimpinan yang sehat lahir saat yang di atas mau merunduk untuk menarik yang di bawah, dan yang di bawah mau mendongak untuk belajar dari yang di atas. Hubungan ini bukan antara majikan dan buruh, melainkan antara kakak dan adik dalam sebuah perjuangan untuk memajukan perusahaan demi rida-Nya.

* Pesan Moral: Bagikan ilmu dan pengalaman Anda kepada junior agar sistem kerja tetap berjalan baik.
* Motivasi: Membimbing orang lain tidak akan mengurangi kepintaran Anda, justru akan memperdalam pemahaman Anda.
* Larangan: Jangan sombong dengan jabatan atau senioritas sehingga menindas yang lebih muda.