QS. Al-Baqarah: 155–156
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
Artinya:
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).
Penjelasan
Kejujuran dalam musibah berarti jujur menerima kenyataan, tidak menyalahkan Allah, dan tidak berpura-pura tabah di hadapan manusia namun rapuh di hadapan iman. Ungkapan inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un adalah deklarasi kejujuran spiritual bahwa hidup sepenuhnya milik Allah.
Cakupan Makna
-Teologis: Pengakuan mutlak terhadap kekuasaan Allah
-Psikologis: Kejujuran emosi dan penerimaan
-Spiritual: Sabar sebagai iman aktif
Kesimpulan
Kejujuran dalam musibah melahirkan ketenangan dan rahmat Allah.