Imam Syafi’i


Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Muthalibi Al-Quraisy. Ia lahir pada tahun 150 Hijriyah di Gaza, Palestina.

Sebagai seorang mujtahid, Imam Syafi’i dikenal karena kontribusinya yang luar biasa dalam ilmu fiqih. Mazhab yang ia dirikan, yaitu mazhab Syafi’i, menjadi rujukan utama dalam hukum Islam.

Ayahnya, Idris, berasal dari Hijaz dan merupakan keturunan Al-Muththalib, yang nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW melalui Abdul Manaf. Kakek Imam Syafi’i bahkan bersaudara kandung dengan Hasyim bin Abdi Manaf, kakek Nabi Muhammad SAW.

Setelah ayahnya wafat, dua tahun setelah kelahirannya, ibunda Imam Syafi’i membawa beliau ke Mekkah, kampung halaman leluhurnya. Di sana, Imam Syafi’i tumbuh dan mulai menunjukkan kecerdasannya. Ia dikenal pandai dalam menghafal syair, menguasai bahasa Arab, serta sastra.

Kisah belajarnya dimulai saat ia menimba ilmu fiqih kepada Mufti Mekah, Muslim bin Khalid Az-Zanji. Pada usia 15 tahun, Imam Syafi’i telah diizinkan untuk memberikan fatwa. Selain itu, ia juga belajar dari ulama terkenal lainnya seperti Dawud bin Abdurrahman Al-Athar, pamannya Muhammad bin Ali bin Syafi’i, dan Sufyan bin Uyainah.

Semangat Imam Syafi’i dalam mencari ilmu dapat dilihat dari perjalanannya ke berbagai tempat. Selain di Mekah, ia juga belajar di Madinah, Yaman, dan berbagai kota lain. Keuletannya dalam belajar diiringi dengan sikapnya yang selalu menjaga adab terhadap gurunya.

Sikap hormat Imam Syafi’i terhadap gurunya menjadi kisah inspiratif yang sering dikenang. Suatu ketika, ia bertemu dengan seorang gurunya yang sudah tua. Dengan penuh rasa hormat, Imam Syafi’i mencium tangan dan memeluk gurunya tersebut.

Tindakan ini menarik perhatian orang lain yang bertanya, “Mengapa engkau melakukan itu kepada orang tua tersebut? Apakah engkau mengenalnya?”

Imam Syafi’i menjawab, “Ia adalah guruku. Aku harus memuliakannya. Suatu hari aku bertanya kepadanya tentang cara mengetahui seekor anjing sudah dewasa. Beliau menjawab bahwa anjing yang dewasa akan mengangkat salah satu kakinya ketika buang air kecil.”

Kisah ini menunjukkan bagaimana Imam Syafi’i menghormati gurunya, sekecil apa pun ilmu yang telah diajarkan.

Semangat Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu dan sikapnya dalam memuliakan guru menjadi teladan yang relevan sepanjang masa. Belajar tanpa lelah membuka wawasan, sementara menghormati guru memudahkan kita memahami ilmu dengan izin Allah SWT.

Mari kita amalkan pelajaran dari kisah hidup Imam Syafi’i untuk meningkatkan semangat belajar dan adab kita dalam menuntut ilmu. Dengan cara ini, kita bisa mengikuti jejak beliau dalam menyebarkan manfaat ilmu ke seluruh dunia.