As-Syarif Ali bin Muhammad al-Jurjani (w. 816 H/1413 M) merekam beberapa definisi tentang ilmu dalam kitabnya At-Ta’rîfât. Ilmu adalah keyakinan tetap yang sesuai dengan realitas. Para ahli hikmah berpendapat bahwa ilmu adalah sampainya gambaran sesuatu dalam akal (pikiran). Yang pertama lebih khusus dari yang kedua. Dikatakan juga ilmu merupakan pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya, atau sirnanya kesamaran dari yang diketahui dan kebodohan kebalikannya. Dikatakan lagi bahwa ilmu adalah kaya dari pengertian-pengertian (ta’rîf). Ilmu adalah shifat yang mendalam, dengannya seseorang mengetahui segala yang universal dan parsial. Ilmu juga diartikan dengan sampainya jiwa pada makna sesuatu.
Definisi yang dikutip oleh al-Jurjani ini termasuk definisi yang terbaik dan paling tepat. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, ilmu paling tepat didefinisikan sebagai ‘tibanya makna dalam jiwa sekaligus tibanya jiwa pada makna’.
Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Quran. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. ‘Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan.
Imam Al-Ghazali dalam al-Munqidz minad Dhalal, memberikan keterangan tambahan perihal ‘kejelasan’ dalam ilmu itu. Arti ilmu menurutnya atau sesungguhnya ialah tersingkapnya sesuatu dengan jelas, sehingga tidak ada lagi ruangan untuk ragu-ragu, tak mungkin salah atau keliru; tak ada di hati tempat untuk itu.
Dalam pandangan Al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan Al-Quran pada surat al-Baqarah [2]: 31 dan 32.
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!”; Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”
Berkaitan dengan tafsir terhadap ayat ini, menarik untuk melihatnya dalam perspektif manajemen pengetahuan di dalam Islam. Seperti dijelaskan oleh Sa’id Hawwa dalam tafsirnya, Al-Asas bahwa melalui kisah Adam dan sikap malaikat terhadap penciptaannya, dapat dipahami bagaimana ilmu yang mencakup, dapat menyingkapkan rahasia dan hikmah yang tidak mungkin disingkapkan oleh orang lain. Ilmu Allah adalah ilmu yang azali dan tidak satu pun yang serupa dengannya. Namun dalam kisah Adam kita dapat mengambil pelajaran bahwa setiap bertambah ilmu pengetahuan seseorang makin tajam pandangannya dan makin bijaksana dalam memutuskan perkara.
Dari kisah Adam dapat dipahami bahwa kesiapan manusia menyerap ilmu pengetahuan adalah rahasia pengangkatannya sebagai khalifah. “Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya.” Di zaman sekarang ini telah terbukti bagi kita hikmah dari rahasia tersebut. Kita dapat menyaksikan kemampuan manusia untuk menyingkapkan berbagai rahasia alam semesta. Namun, sangat disayangkan manusia menggunakan kemampuannya itu merancang sesuatu untuk menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi. Semua itu sebagai akibat dari tersingkirnya kaum Muslimin dari tampuk pemerintahan dunia yang memerintah dengan kalimat Allah.
Tapi, yang lebih menyedihkan lagi, kegiatan kaum Muslimin sejak berabad-abad yang lalu lebih rendah ketimbang kaum lainnya dalam menyingkapkan rahasia alam raya ini! Hal ini disebabkan oleh dominasi orang-orang kafir. Kaum muslimin diminta untuk mengembalikan posisinya ke puncak ilmu pengetahuan di segala bidang.
Apakah sudah jelas dengan definisi ilmu ini? Tetap sebagian orang masih bingung. Setidaknya itu disampaikan oleh guru saya, Prof. Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Katanya, penggunaan istilah ini (ilmu) sungguh membingungkan. Itu adalah karena kata “ilmu” dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab yang berarti “pengetahuan”. Lebih membingungkan lagi karena orang Indonesia menyebut “sains” dengan “ilmu pengetahuan”.
Mungkin di antara definisi ilmu yang bisa memuaskan—mencukupi bagi penulis buku ini, ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang dapat berasal dari ide, pengalaman, observasi, intuisi, dan wahyu dalam suatu ajaran agama. Oleh karena itu, ilmu berbeda dengan pengetahuan. Seseorang yang memiliki pengetahuan hanya dikatakan telah mengetahui sesuatu, tetapi belum dikategorikan telah berilmu, sebagaimana sumber pengetahuan dapat berasal dari pengalaman, tetapi pengalaman belum dapat membentuk ilmu. Pengetahuan yang bersumber dari pengalaman inderawi, penelitian, dan eksplorasi tertentu, apabila diakumulasikan secara sistematis, kemudian ditemukan hubungan di antara pengetahuan yang bersangkutan dalam rangka menemukan kesimpulan tertentu, lalu diuji validitasnya dan diterapkan dalam realitas kehidupan, terbentuklah ilmu. Ilmu yang telah diterapkan dan dirasakan manfaatnya disebut teknologi.
Ilmu yang telah diterapkan dan dirasakan manfaatnya itu, menurut Saifuddin Anshari adalah aktivitas atau kajian yang menggunakan pengetahuan “sains” untuk tujuan praktis dalam industri, pertanian, pengobatan, dll. Inilah yang disebut dengan teknologi. Sains dengan demikian adalah ilmu pengetahuan yang teratur (sistematis) yang dapat diuji kebenarannya serta dirasakan manfaatnya. Sains seperti ini tidak akan mengalami perubahan, berbeda dengan teori, yang selalu mengalaminya.
Menurut KH. Fahmi Basya, sering orang mencampuradukkan antara ilmu dan teori, sehingga mengatakan bahwa Al-Quran tidak bisa dihubungkan dengan sains, karena sains berubah. Sains = ilmu tidak berubah. Yang berubah itu adalah teori. Contoh ilmu yang tidak berubah itu adalah ilmu yang ditemukan oleh Archimedes. “Benda yang dimasukkan ke dalam zat cair akan berkurang beratnya seberat zat cair yang ia pisahkan”. Hal itu tidak berubah. Dengan ilmu ini manusia bisa membuat kapal selam. Itu bukti bahwa ilmu/sains tidak pernah berubah.