وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa kufur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
Tafsir Quraish Sihab Singkat
Sesungguhnya Kami telah memberikan Luqmân hikmah, ilmu dan kebenaran dalam berkata. Dan Kami katakan kepadanya, “Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang telah Dia berikan kepadamu. Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia mencari kebaikan untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang mengingkari nikmat dan tidak mensyukurinya, maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rasa syukurnya. Dialah yang berhak dipuji, walau tak ada seorang pun yang memuji-Nya.”
Penjelasan
Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah melahirkan sikap syukur. Luqman diberi hikmah, lalu diarahkan untuk bersyukur. Ini menegaskan bahwa orang berilmu dan berhikmah menyadari sumber nikmat dalam hidupnya.
Syukur adalah bentuk penerapan ilmu dalam sikap batin dan tindakan. Orang yang bersyukur menggunakan nikmat ilmu secara benar. Ayat ini juga menegaskan bahwa manfaat ilmu dan hikmah kembali kepada manusia sendiri. Allah tidak bergantung pada amal manusia.