هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۖ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Dialah yang mengusir orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dari kampung halaman mereka pada pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka mereka akan keluar, dan mereka pun mengira benteng-benteng mereka akan melindungi dari Allah. Maka Allah mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka sangka. Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki penglihatan”.
Tafsir Singkat Quraish Shihab
Dia yang mengusir kaum Ahl al-Kitâb yang kafir (bangsa Yahudi suku Banû Nadlîr) dari kampung halaman mereka, pada saat pengusiran bangsa Yahudi dari Jazirah Arab kali yang pertama. Kalian, wahai kaum Muslimin, tidak mengira bahwa mereka akan hengkang dari kampung halaman karena begitu kuatnya mereka. Mereka sendiri pun mengira bahwa benteng-benteng yang mereka miliki akan mampu melindungi diri mereka dari azab Allah. Tetapi Allah menyiksa mereka dari arah yang tidak mereka sangka, lalu memasukkan rasa takut yang sangat ke dalam hati mereka. Mereka merusak rumah tempat tinggal mereka dengan tangan mereka sendiri untuk dibiarkan kosong, dan dengan tangan kaum mukminin untuk merusak perlindungan mereka. Oleh karena itu, ambillah pelajaran dari sesuatu yang terjadi pada mereka itu, wahai orang-orang yang mempunyai akal pikiran.
Penjelasan
Ayat ini menjadikan peristiwa sosial sebagai bahan pembelajaran. Kekuasaan, benteng, dan strategi manusia tidak menjamin keselamatan jika nilai moral diabaikan. Al-Qur’an secara tegas memerintahkan untuk mengambil pelajaran. Ilmu sosial dan sejarah berfungsi mencegah kesalahan yang sama terulang. Orang berilmu membaca realitas dengan kesadaran nilai.