{"id":120,"date":"2026-01-23T16:10:46","date_gmt":"2026-01-23T16:10:46","guid":{"rendered":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/imam-malik-ra\/"},"modified":"2026-01-25T07:15:42","modified_gmt":"2026-01-25T07:15:42","slug":"imam-malik-ra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/imam-malik-ra\/","title":{"rendered":"Imam Malik RA"},"content":{"rendered":"<p>Imam Yahya bin Yahya menceritakan percakapan pertamanya dengan guru tercintanya Imam Malik bin Anas RA (711 M-795 M\/90 H-174 H) pendiri Mazhab Maliki. Ia mengisahkan percakapan pertamanya dengan Imam Malik RA yang memberikan kesan bagi perjalanan intelektualitasnya.<\/p>\n<p>Imam Yahya bin Yahya (wafat 848 M) adalah ulama asal Andalusia yang berguru kepada Imam Malik di Madinah. Ia kemudian membawa dan mengembangkan mazhab Maliki di Andalusia. Ia juga periwayat Kitab Al-Muwattha karya Imam Malik. Ia merupakan ulama besar generasi awal Mazhab Maliki. &#8220;Siapa namamu, wahai anak muda?&#8221; tanya Imam Malik RA saat Imam Yahya remaja menghadiri pertama majelis ilmu gurunya untuk menuntut ilmu. &#8220;Semoga Allah memuliakanmu wahai guruku. Namaku Yahya,&#8221; jawabnya. Ia saat itu adalah santri termuda Imam Malik RA. &#8220;Semoga Allah menghidupkan hatimu. Kamu harus sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Aku akan menceritakan kepadamu sebuah kisah yang dapat membakar semangatmu dalam menuntut ilmu dan mengalihkan perhatianmu dari aktivitas lainnya,&#8221; kata Imam Malik RA.<\/p>\n<p>Imam Malik RA memulai kisahnya. \u201cSuatu hari seorang remaja asal negeri Syam tiba di Kota Madinah. Kurang lebih seusia denganmu. Ia menuntut ilmu kepada kami dengan giat dan sungguh-sungguh. Dalam usia yang begitu belia Allah memanggilnya. Ia wafat. Aku belum pernah melihat kondisi jenazah yang begitu eloknya di Kota Madinah ini.\u201d Almarhum tidak lain adalah salah seorang wali Allah. Ulama Madinah berkumpul untuk menshalatkan jenazahnya. Masyarakat pun ikut berduyun untuk mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Ketika tahu akan antusias dan pernghormatan ulama dan masyarakat yang begitu besar, gubernur Madinah menahan pelaksanaan shalat jenazahnya. \u201cPilihlah orang yang paling kalian sukai,\u201d perintah gubernur. Ulama Madinah mengajukan nama Imam Rabi\u2018ah. Imam Rabiah, Zaid bin Aslam, Yahya bin Sa\u2019id, Ibnu Syihab, termasuk ulama yang paling dekat dengan mereka, Muhammad Ibnu Munkadir, Shafwan bin Salim, Abu Hazim, dan ulama terkemuka lainnya menurunkan jenazah ke liang lahat. Imam Rabi\u2019ah menyusun batu bata pada lahatnya. Mereka memberikan batu bata tersebut kepadanya. Tiga hari setelah pemakamannya, salah seorang yang terkenal sebagai wali Allah di Kota Madinah, kata Imam Malik kepada Yahya remaja, bermimpi melihat almarhum sebagai remaja yang berpenampilan dan berpakaian putih elok sekali. Almarhum mengenakan serban hijau dan menunggang kuda kelabu yang sangat bagus. Ia turun dari langit dan menuju kepada sang wali. Ia mengawali percakapan dengan salam. \u201cDerajatku yang tinggi ini bukan didapat dengan berkah ilmu,\u201d kata remaja belia tersebut. \u201cLalu apa yang mengantarkanmu ke derajat yang begitu mulia ini?\u201d tanya wali Allah. \u201cAllah memberikanku satu derajat yang begitu tinggi di surga atas setiap bab dalam satu disiplin ilmu yang kupelajari. Namun demikian, derajat-derajat yang begitu tinggi itu tetap tidak membuatku sederajat dengan para ulama. Tetapi Allah yang maha pemurah berkata kepada malaikat, \u2018Tambahkan derajat itu kepada ahli waris para nabiku.<\/p>\n<p>Aku telah menetapkan dalam diri-Ku bahwa siapa saja yang wafat dalam kondisi memahami sunnah-Ku dan sunnah para nabi-Ku, atau dalam keadaan menuntut ilmu terkait dengannya, niscaya Kukumpulkan mereka dalam satu derajat yang sama.\u2019\u201d \u201cAllah menganugerahkan kepadaku hingga aku meraih derajat para ulama. Aku dan Rasulullah hanya terpaut dua derajat. Pertama adalah derajat di mana ia bersama para nabi tinggal. Kedua adalah derajat para sahabat Nabi Muhammad SAW dan sahabat para nabi yang menjadi pengikut nabi-nabi di zamannya masing-masing. Di bawah itu adalah derajat ulama dan para santri mereka.\u201d Allah menjalankanku hingga ke tengah halaqah mereka. Mereka menyambut dengan antusian, \u201cmarhaban, marhaban.\u201d \u201cBagaimana Allah memberikan tambahan derajat-Nya untukmu?\u201d tanya wali Allah. \u201cAllah berjanji untuk mengumpulkanku bersama para nabi sebagaimana kusaksikan mereka pada rombongan yang sama. Aku bersama mereka hingga hari kiamat tiba. Bila hari kiamat yang dijanjikan tiba, Allah berkata, \u2018Wahai sekalian ulama. Inilah surgaku. Kuizinkan surga ini untuk kalian.<\/p>\n<p>Inilah ridha-Ku. Aku telah meridhai kalian. Jangan kalian masuk surga terlebih dahulu sebelum berdiam untuk memberikan syafaat kepada siapa saja yang kalian kehendaki. Aku juga memberikan mandat agar kalian memberikan syafaat kepada mereka yang meminta syafaat kalian agar aku dapat memperlihatkan kepada semua hamba-Ku betapa tinggi kemuliaan dan kedudukan kalian,\u2019\u201d jawab remaja tersebut. Ketika pagi hari, orang yang dikenal wali Allah ini terjaga. Ia menceritakan mimpinya hingga akhirnya kabar tersebut menyebar luas ke seantero Kota Madinah. Kepada Yahya remaja, Imam Malik RA mengatakan, \u201cDulu di Kota Madinah ini terdapat sekelompok santri-santri yang gemar menuntut ilmu. Seiring waktu semangat mereka dalam menuntut ilmu mengendur hingga berhenti sama sekali.<\/p>\n<p>Setelah mendengar kabar dari wali Allah tersebut, mereka kembali menuntut ilmu dengan semangat dan sungguh-sungguh. Mereka itu kemudian yang kamu kenal hari ini sebagai ulama-ulama terkemuka di Kota Madinah. Wahai Yahya, bersungguh-sungguhlah kamu dalam masalah ini.\u201d<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/nu.or.id\/hikmah\/kisah-imam-malik-ra-dan-sekelompok-santri-malas-yang-menjadi-ulama-terkemuka-4eOxl\">https:\/\/nu.or.id\/hikmah\/kisah-imam-malik-ra-dan-sekelompok-santri-malas-yang-menjadi-ulama-terkemuka-4eOxl<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Imam Yahya bin Yahya menceritakan percakapan pertamanya dengan guru tercintanya Imam Malik bin Anas RA (711 M-795 M\/90 H-174 H) pendiri Mazhab Maliki. Ia mengisahkan percakapan pertamanya dengan Imam Malik RA yang memberikan kesan bagi perjalanan intelektualitasnya. Imam Yahya bin Yahya (wafat 848 M) adalah ulama asal Andalusia yang berguru kepada Imam Malik di Madinah. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":54,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[57],"tags":[],"class_list":["post-120","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kisah-imam-malik-ra-dan-sekelompok-santri-malas-yang-menjadi-ulama-terkemuka"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/users\/54"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":142,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120\/revisions\/142"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=120"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/keutamaan-ilmu-belajar-sofa\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=120"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}