Larangan Mengambil Hak Orang Lain Secara Batil


Pengertian

Memakan harta dengan cara batil adalah memperoleh atau menguasai harta orang lain melalui cara-cara yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam. Perbuatan ini meliputi berbagai bentuk kezaliman, seperti mencuri, menipu, korupsi, suap, menggelapkan amanah, merampas hak milik, dan bentuk lain yang merugikan orang lain. Islam mengharamkan segala bentuk perolehan harta yang dilakukan secara zalim karena dapat merusak keadilan dan menghilangkan keberkahan hidup.

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ۝١٨٨

Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 188)

Kata bathil (باطل) dalam Al-Qur’an disebut dua puluh enam kali dalam dua puluh lima ayat. Makna kata bathil secara etimologis adalah za il dan dzāhib (lenyap dan pergi). Secara terminologis, bahwa seseorang yang makan harta orang lain tidak sesuai dengan aturan syari’ah berarti dia makan secara bāthil. Perilaku makan harta orang lain secara bathil terdapat dalam dua bentuk. Pertama, mengambil harta orang lain melalui kezaliman, pencurian, pemaksaan dan cara-cara lain yang senada dengannya. Kedua, mengambil harta orang lain secara terlarang seperti perjudian dan mengadu nasib.

Sementara itu, kata tudlu (تذلوا) berasal dari adla – yudli (أذلى – يُدْلِي) berarti melempar ember ke dalam sumur untuk mencari air, seperti dalam Surah Yūsuf (12): 19, seseorang diperintah mengambil air, lalu ia memasukkan ember ke dalam sumur (فَادْلًى دَلْواه) . Yang dimaksudkan dengan kata tudlü biha ilal hukkam (تُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحَكَّامِ ) adalah pengajuan suatu perkara kepada penguasa atau hakim dengan memberikan atau mengiming-imingi sejumlah harta sehingga dapat mempengaruhi keputusan hakim tersebut untuk menguasai atau mengambil harta orang lain secara tidak benar.