Doa orang terzalimi sering kali disebut sebagai doa yang paling mustajab dan langsung sampai kepada Allah. Saat seseorang berada di posisi teraniaya, tidak berdaya, dan tersakiti, doa menjadi tempat terakhir sekaligus terbaik untuk bersandar.
Dalam ajaran Islam, hal ini juga ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
“Ada tiga doa mustajab yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa buruk orang tua kepada anaknya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)
Karena itulah, doa orang terzalimi memiliki kedudukan istimewa. Tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah, bahkan meskipun orang yang berdoa tidak memiliki kekuatan apa pun untuk membela dirinya.
Meski begitu, saat dizalimi, Islam tetap mengajarkan untuk menahan amarah dan tidak bertindak gegabah.
Percayalah, Allah Maha Mendengar dan Maha Menolong, meskipun pertolongan-Nya terkadang datang dengan cara dan waktu yang tidak kita duga.
Doa-Doa Orang Terzalimi yang Dapat Diamalkan
Dalam Islam, doa orang terzalimi punya dasar yang sangat kuat. Dalilnya sendiri berdasarkan dari firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 148 yang berbunyi:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌلَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
Artinya: “Allah tidak menyukai perbuatan buruk yang diucapkan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 4:148).
Karena itulah, doa orang terzalimi disebut sebagai doa yang mustajab. Allah Maha Mengetahui setiap luka, ketidakadilan, dan air mata yang mungkin tidak terlihat oleh manusia.
1. Doa saat Nabi Musa Bertemu Firaun
Dalam surah Al-Qasas ayat 21-22, berisi doa yang dipanjatkan Nabi Musa ketika ia dan kaumnya terjebak di antara laut serta pasukan Firaun yang mengejarnya.
Kemudian, Nabi Musa pun memohon kepada Allah agar ia diselamatkan dari kaum yang zalim itu.
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَىٰ رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ
(21) Fakharaja minhaa khaaa ‘ifany-yataraqqab; qaala Rabbi najjinee minal qawmiz zaalimeen. (22) Wa lammaa tawajjaha tilqaaa’a Madyana qaala ‘asaa Rabbeee ai yahdiyanee Sawaaa’as Sabeel.
Artinya: “[21] Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu. [22] Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.”
2. Doa saat Nabi Nuh Terzalimi
قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ
Qaala rabbi inneee a’oozu bika an as’alaka maa laisa lee bihee ‘ilmunw wa illaa taghfir lee wa tarhamneee akum minal khaasireen
Artinya: “Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.” (QS. 11:47)
3. Doa Kaum Nabi Musa agar Dijauhkan dari Fitnah-Fitnah yang Zalim
Dalam surah Yunus ayat 85-86, dijelaskan bahwa kaum Nabi Musa sempat memohon untuk dijauhkan dari fitnah-fitnah yang zalim. Kedua ayat tersebut berbunyi:
فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
(85) Faqaaloo ‘alal laahi tawakkalnaa Rabbanaa laa taj’alnaa fitnatal lilqawmiz zaalimeen. (86) Wa najjinaa birahmatika minal qawmil kaafireen
Artinya: “[85] Lalu mereka berkata, “Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim, [86] Dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir.” (QS. 10:85-86)
4. Doa ketika Dizalimi Orang Lain
Dalam surah An-Naml ayat 62, Allah menegaskan bahwa Dia-lah satu-satunya yang bisa menjawab doa orang yang sedang terdesak, terhimpit, serta tidak memiliki jalan lain selain berharap kepada-Nya.
Karena itu, ayat ini juga dapat diamalkan dalam bentuk doa ketika sedang dizalimi orang lain. Berikut adalah bunyinya:
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
Ammany-yujeebul mud tarra izaa da’aahu wa yakshifussooo’a wa yaj’alukum khula faaa’al ardi ‘a-ilaahum ma’al laahi qaleelam maa tazak karoon
Artinya: “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. 27:62)