1. Dikalungkan Tujuh Lapis Bumi di Lehernya
Bagi orang yang merampas tanah, bangunan, atau properti milik orang lain meskipun hanya sejengkal, Allah SWT akan memperluas tanah tersebut menjadi tujuh lapis bumi di akhirat, lalu menjadikannya kalung yang sangat berat untuk menyiksa pelaku di padang mahsyar.
مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Man akhadza syibran minal ardhi zhulman, fa innahu yuthawwaquhu min sab’i aradhiina yaumal qiyaamah.
Artinya:
“Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim (tanpa hak), maka tanah tersebut akan dikalungkan di lehernya dari tujuh lapis bumi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2452 dan Muslim no. 1610).
2.Bangkrut di Padang Mahsyar (Al-Muflis)
Perampas hak orang lain akan datang di hari kiamat membawa banyak pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, karena ia telah merampas harta, menyakiti, atau memakan hak orang lain, pahala-pahala tersebut akan dipotong secara otomatis untuk membayar korbannya. Jika pahalanya habis sedangkan tuntutan para korban belum selesai, maka dosa-dosa milik korban akan ditimpakan kepada si perampas, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.
إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Innal muflisa min ummatii man ya’tii yaumal qiyaamati bishalaatin wa shiyaamin wa zakaatin, wa ya’tii qad syatama haadza, wa qadzafa haadza, wa akala maala haadza, wa safaka dama haadza, wa dharaba haadza, fa yu’thaa haadza min hasanaatihi wa haadza min hasanaatihi, fa in faniyat hasanaatuhu qabla an yuqdhaa maa ‘alaihi ukhidza min khathaayaahum fa thurihat ‘alaihi, tsumma thuriha fin-naar.
Artinya:
“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang: pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa mencela orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka diberikanlah sebagian kebaikannya kepada orang ini dan sebagian lagi kepada orang itu. Jika kebaikannya telah habis sebelum terselesaikan tuntutannya, maka diambil dari dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581)
3. Diwajibkan Membawa Barang Rampasannya ke Padang Mahsyar
Di hari kiamat, semua bentuk kecurangan, korupsi, dan perampasan hak (ghulul) akan ditampakkan secara nyata. Pelaku akan dipaksa memikul barang yang pernah ia rampas di dunia di hadapan seluruh makhluk sebagai bentuk kehinaan yang luar biasa.
لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ
Laa ulfiyanna ahadakum yaumal qiyaamati ‘alaa raqabatihi syaatun lahaa tsughaa’un, ‘alaa raqabatihi farasun lahu hamhamatun, yaquulu: yaa Rasuulallaahi aghitsnii, fa aquulu: laa amliku laka syai’an, qad ablaghtuka.
Artinya:
“Jangan sampai aku menjumpai salah seorang dari kalian pada hari kiamat datang dengan memikul seekor kambing yang mengembik di lehernya, atau memikul kuda yang meringkik (di lehernya), lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku!’ Maka aku akan menjawab, ‘Aku tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk menolongmu dari azab Allah, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.'” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831).
4. Terhalang dari Surga dan Berhak Atas Neraka
Secara tegas, Islam menutup pintu surga bagi orang-orang yang mengambil hak Muslim lainnya melalui sumpah palsu, paksaan, atau cara-cara yang batil. Sekecil apa pun hak yang dirampas, itu sudah cukup menjadi tiket menuju neraka.
مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَإِنْ كَانَ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ
Maniqtatha’a haqqa-mri’in muslimin biyamiinihi, faqad aujaballaahu lahun-naara wa harrama ‘alaihil-jannah. Fa qaala lahu rajulun: wa in kaana syai’an yasiiran yaa Rasuulallaah? Qaala: wa in kaana qadhiiban min araakin.
Artinya:
“Barangsiapa mengambil hak seorang Muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah menetapkan neraka baginya dan mengharamkan surga atasnya.” Seorang sahabat bertanya, “Meskipun barang itu sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Meskipun itu hanya sebatang kayu siwak.” (HR. Muslim no. 137).
5. Tidak Mendapatkan Syafaat dari Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ adalah pemberi syafaat bagi umatnya di hari kiamat. Namun, beliau berlepas diri dan tidak akan memberikan pertolongan kepada pemimpin atau orang-orang yang menggunakan kekuasaan serta otoritas mereka di dunia untuk bertindak sewenang-wenang dan merampas hak-hak rakyat atau kaum lemah.
صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ غَشُومٌ، وَكُلُّ غَالٍ مَارِقٍ
Shinfani min ummatii lan tanaalahumaa syafaa’atii: imaamun zhaluumun ghasyuumun, wa kullu ghaalin maariqin.
Artinya:
“Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan mendapatkan syafaatku, yaitu pemimpin yang sangat zalim (sewenang-wenang/gasyum) dan setiap orang yang berlebihan dalam agama (ekstrem) hingga keluar darinya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 470).