حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الدُّورِيُّ، وَغَيْرُ، وَاحِدٍ، قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، حَدَّثَنِي أَبُو مَرْحُومٍ عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ مَيْمُونٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ الْجُهَنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ
” مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَىِّ الْحُورِ شَاءَ ” . قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ .
2021 – Telah menceritakan kepada kami ‘Abbas Ad-Duri dan tidak hanya satu orang (beberapa orang), mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yazid Al-Muqri’, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abi Ayyub, telah menceritakan kepadaku Abu Marhum ‘Abdurrahim bin Maimun, dari Sahl bin Mu’adz bin Anas Al-Juhani, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia kuasa untuk meluapkannya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, hingga Allah menyuruhnya memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki.”
Ia (Abu ‘Isa At-Tirmidzi) berkata: Hadis ini derajatnya hasan gharib.
Penjelasan dan Asbābul Wurūd
Hadis ini disampaikan Rasulullah ﷺ sebagai motivasi bagi umat Islam agar mampu mengendalikan amarah dan tidak terburu-buru melampiaskannya, meskipun memiliki kekuatan atau kesempatan untuk membalas. Tidak terdapat riwayat khusus mengenai asbābul wurūd hadis ini, namun para ulama menjelaskan bahwa hadis ini merupakan bagian dari bimbingan Rasulullah ﷺ dalam membentuk akhlak mulia dan menjaga keharmonisan hubungan antarsesama. Hadis ini menegaskan bahwa menahan amarah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kekuatan iman yang akan mendapatkan kemuliaan dan pahala besar dari Allah SWT pada hari kiamat.
(HR. Tirmidzi No. 2021)