Berikut adalah beberapa faktor utama penyebab timbulnya amarah yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan pembelajaran bagi kita:
1.Sifat Sombong dan Menganggap Remeh Orang Lain (Al-Kibr & Al-Ujub) Kesombongan dan merasa diri lebih baik adalah pemicu utama amarah ketika ego seseorang terusik atau ketika merasa tidak dihormati oleh orang lain.
Dasar dari Al-Qur’an (QS. Al-A’raf [7]: 12):
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'”
Penjelasan Teks: Ayat ini menunjukkan akar amarah pertama di alam semesta, yaitu ketika Iblis merasa marah dan membangkang karena kesombongannya yang merasa lebih mulia daripada Nabi Adam AS.
2. Olokan, Celaan, dan Merendahkan Orang Lain (Al-Instihza’ & Al-Sukhriyyah) Tindakan lisan berupa ejekan atau gurauan yang melewati batas sering kali menjadi pemantik utama yang membakar emosi pihak yang dijadikan objek olokan.
Dasar dari Al-Qur’an (QS. Al-Hujurat [49]: 11):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka…”
Penjelasan Teks: Al-Qur’an melarang tindakan saling mengolok-olok karena secara psikologis dan sosial, perbuatan ini merupakan pemicu langsung lahirnya rasa sakit hati yang berujung pada kemarahan dan permusuhan.
3. Perdebatan Sengit dan Pertikaian Lisan (Al-Mira’ & Al-Khusumah) Berdebat hanya untuk memenangkan ego atau menjatuhkan argumen orang lain tanpa dasar kebenaran adalah ladang subur bagi setan untuk menyulut api amarah.
Dasar dari Hadis:
أَنَّ رَجُلَيْنِ اسْتَبَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَسَلَّمَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوسٌ، وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ، مُغْضَبًا قَدْ احْمَرَّ وَجْهُهُ
“Ada dua orang laki-laki yang saling mencaci di hadapan Nabi SAW sedangkan kami sedang duduk di dekat beliau. Salah seorang dari keduanya mencaci temannya dengan penuh kemarahan hingga wajahnya memerah…” (HR. Bukhari & Muslim)
Penjelasan Teks: Hadis sejarah ini (yang juga menjadi latar belakang dianjurkannya membaca Ta’awwudz) membuktikan secara empiris bahwa adu mulut dan saling mencaci adalah aktivitas lisan yang secara instan memicu kemarahan fisik dan hilangnya kontrol diri.
4. Keserakahan dan Cinta Dunia yang Berlebihan (Al-Hirsh ‘ala al-Dunya) Ketika tujuan hidup seseorang hanya berporos pada materi, ia akan mudah marah apabila keinginan dunianya tidak terpenuhi atau merasa hak dunianya dikurangi.
Dasar dari Al-Qur’an (QS. At-Tawbah [9]: 58):
وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ
“Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, tiba-tiba mereka menjadi marah.”
Penjelasan Teks: Ayat ini mendeteksi penyakit hati orang-orang munafik, di mana barometer emosi mereka diatur oleh harta. Mereka menjadi sangat marah bukan karena urusan agama, melainkan karena kepentingan duniawi mereka tidak terpenuhi.