Sebagai bentuk panduan yang aplikatif, Islam juga memberikan langkah-langkah praktis untuk meredakan amarah secara bertahap ketika gejolak tersebut mulai muncul melalui tuntunan hadis-hadis sahih:
1.Membaca Ta’awwudz (Aspek Spiritual) Langkah pertama adalah memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar dari hasutan setan yang memanaskan hati, sesuai sabda Nabi SAW:
إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sungguh, aku mengetahui sebuah kalimat yang jika diucapkannya, niscaya akan hilang apa yang dirasanya (amarah), yaitu: A’udzu billahi minasysyaithanirrajim.” (HR. Bukhari & Muslim)
2. Menjaga Lisan dengan Diam Langkah kedua adalah menahan diri dari mengeluarkan kata-kata yang dapat memperkeruh suasana atau menyakiti orang lain:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad)
3. Mengubah Posisi Tubuh (Fisik/Kinestetik) Jika emosi belum mereda, metode berikutnya adalah mengubah postur tubuh untuk membantu menurunkan ketegangan saraf secara biologis:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika amarahnya telah hilang (maka itu baik), jika belum, hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud)
4. Berwudhu (Terapi Air) Langkah fisik terakhir yang sangat dianjurkan adalah membasuh diri dengan air wudhu untuk memberikan efek penyegaran pada jiwa yang sedang membara:
إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air, maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud)
Melalui seluruh tuntunan ini, Islam mendefinisikan ulang arti sebuah kekuatan melalui parameter pengendalian diri, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat itu bukanlah yang jago bergulat, melainkan orang yang mampu menguasai dirinya sendiri ketika ia marah.” (HR. Bukhari & Muslim)