{"id":11,"date":"2026-07-05T07:57:00","date_gmt":"2026-07-05T07:57:00","guid":{"rendered":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/bagian-1-larangan-marah-dalam-persepektif-al-quran-dan-hadis\/"},"modified":"2026-07-05T07:57:00","modified_gmt":"2026-07-05T07:57:00","slug":"bagian-1-larangan-marah-dalam-persepektif-al-quran-dan-hadis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/bagian-1-larangan-marah-dalam-persepektif-al-quran-dan-hadis\/","title":{"rendered":"Bagian 1 &#8211; Larangan Marah dalam Persepektif Al-Qur&#8217;an dan Hadis"},"content":{"rendered":"<h2 style=\"text-align: center\" data-path-to-node=\"2\">Pengertian Amarah (Ghadab) dalam Islam<\/h2>\n<p data-path-to-node=\"3\">Secara etimologi, kata &#8220;marah&#8221; dalam bahasa Arab diistilahkan sebagai <b data-path-to-node=\"3\" data-index-in-node=\"70\"><i data-path-to-node=\"3\" data-index-in-node=\"70\">al-ghadhab<\/i> (\u0627\u0644\u063a\u0636\u0628)<\/b>. Secara terminologi ilmiah dan psikologi Islam, <i data-path-to-node=\"3\" data-index-in-node=\"137\">ghadhab<\/i> didefinisikan sebagai keadaan emosional ketika darah di dalam jantung bergejolak demi menuntut pembalasan, pembelaan diri, atau penolakan terhadap sesuatu yang tidak disukai. Para ulama menjelaskan bahwa rasa marah pada dasarnya adalah salah satu potensi instingtif manusiawi (<i data-path-to-node=\"3\" data-index-in-node=\"422\">quwwah al-ghadhabiyyah<\/i>) yang dianugerahkan oleh Allah SWT sebagai mekanisme pertahanan diri alami dari berbagai ancaman di luar dirinya.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"4\">Namun, di dalam kacamata syariat, amarah diibaratkan laksana api yang berkobar di dalam dada. Jika gejolak ini tidak dikendalikan oleh akal sehat dan bimbingan iman, ia akan berubah menjadi kekuatan destruktif yang dipicu oleh hasutan setan. Oleh karena itu, Islam tidak memandang sifat marah sebagai sesuatu yang sepenuhnya harus dihilangkan\u2014karena ia merupakan bagian dari fitrah penciptaan manusia. Yang dilarang dan diatur dengan ketat dalam Islam adalah manifestasi amarah yang meluap-luap tanpa kendali, tidak proporsional, serta didorong oleh pemuasan hawa nafsu egoistik semata.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: center\" data-path-to-node=\"6\">Perspektif Al-Qur&#8217;an: Menahan Amarah sebagai Karakter Penghuni Surga<\/h2>\n<p data-path-to-node=\"7\">Dalam perspektif Islam, amarah dipandang sebagai kodrat atau fitrah manusiawi yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, melainkan harus dikendalikan. Al-Qur&#8217;an menempatkan kemampuan menahan amarah pada kedudukan yang sangat mulia, yaitu sebagai salah satu indikator utama dari ketakwaan seseorang sekaligus ciri masyarakat penghuni surga. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam <b data-path-to-node=\"7\" data-index-in-node=\"378\">QS. Ali &#8216;Imran [3]: 134<\/b>:<\/p>\n<blockquote data-path-to-node=\"8\">\n<p data-path-to-node=\"8,0\">\u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u064a\u064f\u0646\u0652\u0641\u0650\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0633\u0651\u064e\u0631\u0651\u064e\u0627\u0621 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0636\u0651\u064e\u0631\u0651\u064e\u0627\u0621 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0627\u0638\u0650\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u063a\u064e\u064a\u0652\u0638\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0639\u064e\u0627\u0641\u0650\u064a\u0646\u064e \u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u06d7 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u064a\u064f\u062d\u0650\u0628\u0651\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062d\u0652\u0633\u0650\u0646\u0650\u064a\u0646\u064e<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8,1\"><i data-path-to-node=\"8,1\" data-index-in-node=\"0\">&#8220;(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.&#8221;<\/i><\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-path-to-node=\"9\">Ajaran Islam tidak menuntut pemeluknya untuk sama sekali tidak memiliki rasa marah, melainkan melarang amarah tersebut meluap tanpa kendali. Ketika seseorang mampu meredam gejolak emosinya, ia sedang menyelamatkan dirinya dari pengaruh buruk yang dapat melumpuhkan akal sehat. Oleh karena itu, larangan marah ini berfungsi sebagai pelindung moral agar manusia tidak mengambil keputusan yang impulsif dan merusak, baik bagi dirinya sendiri maupun dalam hubungan sosial dengan sesama.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: center\" data-path-to-node=\"11\">Landasan Poros: Hadis Ke-16 Al-Arba&#8217;in An-Nawawiyyah<\/h2>\n<p data-path-to-node=\"12\">Landasan utama dari konsep pengendalian emosi ini dirangkum secara padat dalam <b data-path-to-node=\"12\" data-index-in-node=\"79\">Hadis ke-16 Kitab Al-Arba&#8217;in An-Nawawiyyah<\/b>. Latar belakang timbulnya hadis ini (<i data-path-to-node=\"12\" data-index-in-node=\"159\">asbabun wurud<\/i>) berawal dari seorang sahabat yang datang menemui Nabi Muhammad SAW untuk meminta sebuah wasiat ringkas yang dapat merangkum segala kebaikan dalam hidup. Berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah RA, beliau mengisahkan:<\/p>\n<blockquote data-path-to-node=\"13\">\n<p data-path-to-node=\"13,0\">\u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0631\u064e\u062c\u064f\u0644\u064b\u0627 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0644\u0650\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u0650 \u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e: \u0623\u064e\u0648\u0652\u0635\u0650\u0646\u0650\u064a\u060c \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u063a\u0652\u0636\u064e\u0628\u0652. \u0641\u064e\u0631\u064e\u062f\u0651\u064e\u062f\u064e \u0645\u0650\u0631\u064e\u0627\u0631\u064b\u0627\u060c \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u063a\u0652\u0636\u064e\u0628\u0652<\/p>\n<p data-path-to-node=\"13,1\"><i data-path-to-node=\"13,1\" data-index-in-node=\"0\">&#8220;Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, &#8216;Berilah aku wasiat.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Janganlah engkau marah.&#8217; Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya beberapa kali, dan Nabi SAW tetap bersabda, &#8216;Janganlah engkau marah.'&#8221;<\/i> (<b data-path-to-node=\"13,1\" data-index-in-node=\"232\">HR. Bukhari<\/b>)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-path-to-node=\"14\">Melalui peristiwa ini, kita dapat memahami bahwa amarah adalah pintu gerbang utama dari berbagai keburukan. Dengan berhasil menahan amarah, seseorang secara tidak langsung telah menutup jalan bagi timbulnya ucapan kasar, tindakan kekerasan, dan perpecahan yang dapat merusak keharmonisan antarmanusia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Amarah (Ghadab) dalam Islam Secara etimologi, kata &#8220;marah&#8221; dalam bahasa Arab diistilahkan sebagai al-ghadhab (\u0627\u0644\u063a\u0636\u0628). Secara terminologi ilmiah dan psikologi Islam, ghadhab didefinisikan sebagai keadaan emosional ketika darah di dalam jantung bergejolak demi menuntut pembalasan, pembelaan diri, atau penolakan terhadap sesuatu yang tidak disukai. Para ulama menjelaskan bahwa rasa marah pada dasarnya adalah salah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":100,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-11","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bagian-1-larangan-marah-dalam-persepektif-al-quran-dan-hadis"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/100"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/khazanah-laranganmarah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}