فَاخْتَلَفَ الْاَحْزَابُ مِنْۢ بَيْنِهِمْ ۚفَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ اَلِيْمٍ
“Golongan-golongan di antara mereka (Yahudi dan Nasrani) berselisih. Celakalah orang-orang yang zalim (karena) azab pada hari yang sangat pedih (kiamat).”
Tafsir Ringkas :
- Akan tetapi, golongan-golongan yang ada saling berselisih di antara mereka mengenai pribadi Nabi Isa yang agung dan hamba Allah yang lahir tanpa ayah itu. Maka, celakalah orang-orang yang zalim itu karena perselisihan mereka dan mengingkari Isa sebagai utusan Allah dan menentang ajaran agama yang dibawanya karena azab hari yang amat pedih pada hari Kiamat kelak.
Tafsir Tahlili :
- Bani Israil berselisih pendapat mengenai Nabi Isa baik semasa ia hidup maupun setelah meninggal. Yang menjadi ajang perselisihan pada waktu ia masih hidup adalah yang menerimanya sebagai nabi dan manusia suci, ada yang menuduhnya sebagai anak dari hubungan haram yang dilakukan ibunya. Dan setelah ia meninggal ada yang memandangnya anak Tuhan, atau Tuhan itu sendiri, dan ada yang memandangnya manusia biasa yang diutus sebagai rasul. Perselisihan itu sangat tajam sehingga terbentuk banyak sekali sekte yang berseberangan. Mereka tidak hanya berpecah belah tetapi juga saling membunuh (berperang-perangan). Yang berpandangan salah di antara sekte-sekte itu berpandangan salah mengenai Nabi Isa sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat di atas, akan bernasib malang, yaitu azab yang pedih di dalam neraka di hari akhirat.
Kesimpulan :
- Kisah ini menjelaskan bahwa Bani Israil sangat berselisih tentang Nabi Isa a.s., baik ketika beliau masih hidup maupun setelah wafat. Ada yang menerima beliau sebagai nabi dan hamba Allah, tetapi ada pula yang menolak, menuduh dengan tuduhan yang buruk, bahkan menganggapnya sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Perbedaan pandangan ini menimbulkan perpecahan yang tajam hingga melahirkan banyak golongan yang saling bermusuhan dan berperang. Ayat ini menegaskan bahwa pandangan yang keliru tentang Nabi Isa dan penyimpangan dari ajaran yang benar akan berakibat buruk, yaitu mendapat azab yang pedih di akhirat. Hal ini menjadi peringatan agar manusia mengikuti kebenaran yang datang dari Allah dan tidak berlebih-lebihan dalam memahami para nabi.