QS. Al-Mu’minun: 1–2


قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ, الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ

” Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, “

Tafsir Ringkas : 

  • Sungguh, pasti beruntung orang-orang mukmin yang telah mantap imannya dan terbukti dengan mengerjakan amal-amal saleh. Orang yang demikian itu ialah orang yang khusyuk dalam salatnya, yakni tumakninah, rendah hati, fokus, serta menyadari dengan sepenuuhnya bahwa dia sedang menghadap Sang Penciptanya (Lihat juga: al-Baqarah/2: 4546).
  • Sungguh, pasti beruntung orang-orang mukmin yang telah mantap imannya dan terbukti dengan mengerjakan amal-amal saleh. Orang yang demikian itu ialah orang yang khusyuk dalam salatnya, yakni tumakninah, rendah hati, fokus, serta menyadari dengan sepenuuhnya bahwa dia sedang menghadap Sang Penciptanya (Lihat juga: al-Baqarah/2: 4546).

Tafsir Tahlili : 

  • Kelompok pertama dari Surah al-Mu’minūn berisi tentang tujuh sifat mulia: Beriman kepada Allah dan rukun iman yang enam. Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa sungguh berbahagia dan beruntung orang-orang yang beriman, dan sebaliknya sangat merugi orang-orang kafir yang tidak beriman, karena walaupun mereka menurut perhitungan banyak mengerja-kan amal kebajikan, akan tetapi semua amalnya itu akan sia-sia saja di akhirat nanti, karena tidak berlandaskan iman kepada-Nya.
  • Khusyuk dalam salat. Dalam ayat ini Allah menjelaskan sifat yang kedua, yaitu seorang mukmin yang beruntung, jika salat benar-benar khusyuk dalam salatnya, pikirannya selalu mengingat Allah, dan memusatkan semua pikiran dan panca inderanya untuk bermunajat kepada-Nya. Dia menyadari dan merasakan bahwa orang yang salat itu benar-benar sedang berhadapan dengan Tuhannya, oleh karena itu seluruh anggota tubuh dan jiwanya dipenuhi kekhusyukan, kekhidmatan dan keikhlasan, diselingi dengan rasa takut dan diselubungi dengan penuh harapan kepada Tuhannya. Untuk dapat memenuhi syarat kekhusyukan dalam salat, harus memperhati-kan tiga perkara, yaitu: a) Paham apa yang dibaca, supaya apa yang diucapkan lidahnya dapat dipahami dan dimengerti, sesuai dengan ayat: اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ٢٤ Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci? (Muhammad/47: 24) b) Ingat kepada Allah, sesuai dengan firman-Nya: وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ Dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku. (Ṭāhā/20: 14) c) Salat berarti munajat kepada Allah, pikiran dan perasaan orang yang salat harus selalu mengingat dan jangan lengah atau lalai. Para ulama berpendapat bahwa salat yang tidak khusyuk sama dengan tubuh tidak bernyawa. Akan tetapi ketiadaan khusyuk dalam salat tidak membatalkan salat, dan tidak wajib diulang kembali.

Kesimpulan : 

  • Surah al-Mu’minūn menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar beruntung adalah orang-orang yang beriman dan memiliki sifat-sifat mulia. Iman menjadi dasar utama, karena tanpa iman, amal kebaikan tidak bernilai di akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak beriman akan merugi meskipun tampak banyak berbuat baik di dunia.

    Salah satu ciri utama orang beriman yang beruntung adalah khusyuk dalam salat. Khusyuk berarti salat dilakukan dengan penuh kesadaran, hati dan pikiran tertuju kepada Allah, merasa sedang bermunajat dan berhadapan langsung dengan-Nya. Kekhusyukan ini ditumbuhkan dengan memahami bacaan salat, selalu mengingat Allah, dan menjaga fokus agar tidak lalai.

    Walaupun salat yang tidak khusyuk tetap sah, salat yang khusyuklah yang memberi ruh dan nilai utama bagi ibadah. Dengan iman yang kuat dan salat yang khusyuk, seorang mukmin akan meraih kebahagiaan dan keberuntungan yang sejati.