Pengertian ilmu yang bermanfaat menurut hadis


Dalam literatur Islam, ilmu bukan sekadar tumpukan informasi atau teori keluhuran yang dihafal. Menurut perspektif hadis-hadis Rasulullah ﷺ, sebuah ilmu baru dikatakan “bermanfaat” (‘ilmun yuntafa’u bihi) apabila ia memenuhi kriteria mendasar yang mengubah kualitas spiritual dan sosial pemiliknya.

Berdasarkan petunjuk sunah, berikut adalah pengertian dan ciri dari ilmu yang bermanfaat:

·         Ilmu yang Membuahkan Amal Nyata: Pengertian utama ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak mandek di dalam pikiran, melainkan langsung diterjemahkan ke dalam perbaikan ibadah, peningkatan kualitas akhlak, dan aktivitas sehari-hari.

·         Mendekatkan Diri dan Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah: Ilmu yang bermanfaat akan membuat pemiliknya semakin menyadari keagungan Sang Pencipta, sehingga melahirkan rasa khusyuk, ketawaduan, dan menjauhkan diri dari kesombongan intelektual.

·         Dapat Diajarkan dan Memberi Kemaslahatan bagi Sesama: Ilmu tersebut memiliki dampak sosial yang luas; baik ilmu agama yang menuntun orang ke jalan kebenaran, maupun ilmu duniawi (teknologi, kesehatan, sosial) yang mempermudah kehidupan manusia.

·         Menjadi Penyelamat dari Fitnah Dunia: Ilmu yang bermanfaat berfungsi sebagai kompas dan pelindung hati yang menjaga pemiliknya agar tidak tergelincir dalam kesesatan materi dan hawa nafsu.

Landasan Hadis:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

«مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ.»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Ala’, ia berkata bahwa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah, dari Buraid bin Abdullah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya adalah seperti hujan lebat yang mengenai bumi. Di antaranya ada tanah yang subur yang menyerap air, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang dapat menahan air, lalu Allah memberikan manfaat dengannya kepada manusia, sehingga mereka dapat minum, memberi minum (ternak), dan bercocok tanam. Dan hujan itu juga mengenai bagian bumi yang lain, yaitu tanah tandus yang tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Itulah permisalan orang yang paham tentang agama Allah dan ilmu yang Allah utus aku dengannya bermanfaat baginya, lalu dia belajar dan mengajarkannya; serta permisalan orang yang tidak mengangkat kepalanya (tidak peduli) terhadap ilmu tersebut dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)