Akhlak peuntut ilmu dengan pandangan ulama


Penjelasan Ulama

Para ulama sejak masa salaf hingga khalaf sepakat bahwa akhlak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses menuntut ilmu. Mereka menegaskan bahwa ilmu yang tidak disertai dengan adab dan akhlak yang baik akan kehilangan keberkahannya serta sulit memberikan manfaat bagi pemiliknya maupun orang lain.

1. Imam Malik bin Anas (93–179 H)

Imam Malik, pendiri Mazhab Maliki, sangat menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Beliau berkata:

“تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ”

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan fondasi utama dalam memperoleh ilmu. Menurut Imam Malik, seseorang yang memiliki adab akan lebih mudah menerima ilmu, menghormati gurunya, menjaga lisannya, serta mampu mengamalkan ilmu dengan benar. Sebaliknya, ilmu yang diperoleh tanpa adab dapat menyebabkan seseorang merasa paling benar, mudah meremehkan orang lain, dan kehilangan keberkahan ilmu yang dimilikinya.

2. Imam an-Nawawi (631–676 H)

Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmū’ dan At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalatil Qur’ān menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji, seperti ikhlas, tawadhu’, sabar, menjaga kehormatan guru, menghormati sesama penuntut ilmu, serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Beliau menegaskan bahwa ilmu yang disertai akhlak akan membawa keberkahan dan menjadi sebab bertambahnya ketakwaan kepada Allah Swt. Sebaliknya, apabila ilmu hanya dijadikan alat untuk mencari kedudukan, pujian, atau kemuliaan dunia, maka ilmu tersebut tidak akan memberikan manfaat yang hakiki.

Menurut Imam an-Nawawi, salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah semakin bertambahnya rasa takut kepada Allah, semakin baik akhlaknya, dan semakin besar semangatnya dalam beribadah serta berbuat baik kepada sesama manusia.

3. Imam asy-Syafi’i (150–204 H)

Imam asy-Syafi’i memandang bahwa keberhasilan menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh akhlak yang baik dan kesungguhan dalam belajar. Beliau pernah berkata:

“لَيْسَ الْعِلْمُ مَا حُفِظَ، إِنَّمَا الْعِلْمُ مَا نَفَعَ”

“Ilmu bukanlah sekadar apa yang dihafal, tetapi ilmu adalah apa yang memberi manfaat.”

Ungkapan ini menjelaskan bahwa manfaat ilmu baru akan terlihat apabila ilmu tersebut diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya tidak merasa cukup hanya dengan menghafal atau memahami teori, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam amal dan akhlak.