13. Berkata baik dan diam


حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ جُنْدَبًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَهُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّه

Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Sufyan] telah menceritakan kepadaku [Salamah bin Kuhail]. lewat jalur periwayatan lain, telah menceritakan kepada kami [Abu Nu’aim] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Salamah] mengatakan; aku mendengar [Jundab] menuturkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, -dan aku tak mendengar seorang pun (selainnya) mengatakan dengan redaksi ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, maka aku dekati dia, dan kudengar dia menuturkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; – \”Barangsiapa yang beramal karena sum’ah, Allah akan menjadikannya dikenal sum’ah, sebaliknya barangsiapa yang beramal karena riya’, Allah akan menjadikannya dikenal riya.\”
Hadis yang diriwayatkan dari Jundab ini menjelaskan larangan melakukan suatu kebaikan dengan tujuan agar diketahui dan mendapatkan pujian dari orang lain. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa orang yang sengaja memperlihatkan amalnya kepada manusia demi memperoleh perhatian akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan perbuatannya, sebagaimana makna hadis “barang siapa memperdengarkan amalnya, Allah akan memperdengarkannya, dan barang siapa berbuat riya, Allah akan menampakkan riya tersebut.” Pesan hadis ini mengajarkan pentingnya keikhlasan, yaitu melakukan kebaikan bukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan, pujian, atau penghargaan dari manusia. Dalam kehidupan masyarakat di Bumi Borneo yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial, nilai keikhlasan dapat menjadi salah satu dasar dalam membangun hubungan yang harmonis. Sikap saling membantu dan bekerja sama sebaiknya dilakukan karena adanya kepedulian terhadap sesama, bukan untuk menunjukkan bahwa kelompok tertentu lebih baik daripada kelompok lainnya. Gotong royong, membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, menjaga lingkungan, serta menghormati tradisi dan keyakinan orang lain akan lebih bermakna apabila dilakukan dengan ketulusan tanpa mengharapkan pujian atau keuntungan pribadi. Selain itu, hadis ini juga mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan kebaikan sebagai sarana untuk mencari popularitas atau membangun citra diri yang dapat menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan sosial. Dengan menerapkan sikap ikhlas dalam kehidupan bermasyarakat, masyarakat Borneo dapat memperkuat rasa saling percaya, mengurangi persaingan yang tidak sehat, dan membangun hubungan sosial yang lebih tulus. Oleh karena itu, merajut harmoni di Bumi Borneo dapat diwujudkan melalui kebaikan yang dilakukan dengan niat yang benar, kepedulian tanpa membedakan latar belakang, serta sikap saling menghargai sehingga keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan penuh kebersamaan.

ُ بِهِ