Memuliakan Tetangga tanpa Memandang Kasta (Ikram al-Jar)


Dalam Islam, hak tetangga sangatlah besar. Rasulullah tidak membatasi kata “tetangga” hanya untuk yang seagama atau sesuku saja. Membantu tetangga yang kesusahan adalah cerminan iman yang sejati.

Prinsip Islam mengenai hak tetangga ini berjalan selaras dengan falsafah hidup masyarakat Kalimantan, salah satunya seperti tradisi gotong royong “Handep” atau “Belale'” di beberapa wilayah Dayak, serta tradisi Badadamar atau saling membantu dalam tradisi Banjar. Nilai-nilai lokal ini mempertegas bahwa memuliakan tetangga bukan sekadar urusan bertukar sapa di batas pagar, melainkan tentang membangun benteng kemanusiaan yang saling melindungi.

Oleh karena itu, mengaplikasikan kepedulian terhadap tetangga di bumi Kalimantan adalah bukti bahwa iman yang sejati tidak hanya berwujud ibadah ritual di dalam masjid, melainkan juga memancar dalam harmoni sosial, menjaga kedamaian, dan merawat keberagaman di tanah tempat saya berpijak

Ada beberapa ayat didalam Al-Quran yang serasi dalam kaitan ini didalam surah An-nisa 36

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirhendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)