حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ دَرَّاجٍ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا حَلِيمَ إِلَّا ذُو عَثْرَةٍ وَلَا حَكِيمَ إِلَّا ذُو تَجْرِبَةٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah], telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Wahb] dari [Amr bin Harits] dari [Darraj] dari [Abu Al Haitsam] dari [Abu Sa’id] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: \”Tiada yang memiliki ketabahan kecuali seorang yang telah mengalami ujian. Tidak ada kebijaksanaan, kecuali yang telah kenyang pengalaman.\” Abu Isa berkata; Ini adalah hadis hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini.
Hadis yang diriwayatkan dari Abū Sa‘īd ini menjelaskan bahwa orang yang memiliki sifat penyantun dan bijaksana biasanya terbentuk melalui proses kehidupan yang tidak selalu mudah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak disebut sebagai orang yang benar-benar penyantun kecuali orang yang pernah mengalami kesalahan atau kesulitan, dan tidak disebut sebagai orang yang bijaksana kecuali orang yang telah memperoleh pengalaman.
Pesan hadis tersebut menunjukkan bahwa kesabaran dan kebijaksanaan tidak muncul secara instan, tetapi berkembang melalui proses belajar dari berbagai pengalaman kehidupan. Seseorang yang pernah menghadapi kesulitan akan lebih memahami keadaan orang lain, sedangkan pengalaman dapat membuat seseorang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Hadis ini juga memberikan pelajaran bahwa pengalaman, termasuk pengalaman menghadapi perbedaan dan persoalan sosial, seharusnya menjadi sarana untuk membentuk sikap yang lebih dewasa. Ketika seseorang mampu mengambil hikmah dari pengalaman tersebut, ia akan lebih mampu mengendalikan emosi, menghargai pandangan orang lain, serta menyelesaikan persoalan tanpa memperbesar konflik.
Relevansi dengan Kerukunan di Bumi Borneo
Pesan hadis ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Borneo atau Kalimantan yang memiliki keragaman suku, agama, bahasa, adat istiadat, dan budaya. Dalam masyarakat yang majemuk, perbedaan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, diperlukan sikap ḥilm atau penyantun serta ḥikmah atau kebijaksanaan agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber pertentangan.
1. Kesabaran sebagai dasar menghadapi perbedaan
Masyarakat yang hidup dalam keberagaman tentu dapat menemukan perbedaan pandangan, kebiasaan, maupun cara menjalankan kehidupan. Hadis ini mengajarkan pentingnya memiliki sikap tenang dan tidak mudah terbawa emosi. Di Borneo, kesabaran dapat menjadi modal penting untuk menjaga hubungan antarsuku, antaragama, dan antarkelompok masyarakat.
2. Belajar dari pengalaman untuk menciptakan kerukunan
Pengalaman sosial yang pernah terjadi dalam kehidupan masyarakat seharusnya menjadi bahan pembelajaran. Konflik, kesalahpahaman, atau perbedaan yang pernah muncul dapat dijadikan evaluasi agar masyarakat semakin memahami pentingnya komunikasi dan saling menghargai. Dengan demikian, pengalaman tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih damai.
3. Mengedepankan kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan
Kebijaksanaan diperlukan ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan perbedaan identitas. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan perdebatan atau saling menyalahkan. Sikap bijaksana dapat diwujudkan dengan mendengarkan pihak lain, memahami latar belakang perbedaan, mencari titik temu, dan memilih penyelesaian yang tidak merugikan salah satu kelompok.
4. Menghargai masyarakat dengan latar belakang yang berbeda
Keberagaman Borneo merupakan kekayaan yang terbentuk dari perjalanan sejarah dan interaksi berbagai kelompok masyarakat. Hadis ini mengajarkan bahwa pengalaman dapat melahirkan pemahaman yang lebih luas. Oleh karena itu, masyarakat perlu melihat perbedaan sebagai kesempatan untuk belajar mengenal tradisi, nilai, dan sudut pandang orang lain tanpa harus merendahkan identitas masing-masing.
5. Menjadikan generasi muda sebagai penerus kerukunan
Nilai kesabaran dan kebijaksanaan juga penting ditanamkan kepada generasi muda Borneo. Generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi perbedaan secara dewasa, terutama ketika berinteraksi di lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun ruang digital. Tidak mudah terprovokasi, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, dan menghormati pendapat orang lain merupakan bentuk penerapan nilai hadis dalam kehidupan modern.
Kesimpulan
Hadis “لَا حَلِيمَ إِلَّا ذُو عَثْرَةٍ، وَلَا حَكِيمَ إِلَّا ذُو تَجْرِبَةٍ” memberikan pesan bahwa sifat penyantun dan kebijaksanaan terbentuk melalui proses pengalaman hidup. Seseorang menjadi lebih dewasa ketika mampu mengambil pelajaran dari kesulitan dan pengalaman yang telah dilaluinya.
Dalam konteks Bumi Borneo, nilai tersebut dapat menjadi dasar dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan tradisi. Kesabaran membantu masyarakat mengendalikan perbedaan agar tidak berkembang menjadi konflik, sedangkan kebijaksanaan membantu menemukan jalan penyelesaian yang adil dan damai.
Dengan demikian, merajut kerukunan di Bumi Borneo tidak hanya membutuhkan sikap saling menghormati, tetapi juga kesanggupan untuk belajar dari pengalaman, mengendalikan emosi, memahami perbedaan, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Keberagaman akan menjadi kekuatan apabila masyarakat mampu mengelolanya dengan kesabaran dan kebijaksanaan.