Keberagaman yang membentang di bumi Borneo merupakan wujud nyata dari ketetapan Allah (Sunnatullah) yang sengaja dirancang bukan sebagai pemicu perpecahan, melainkan sebagai simfoni indah yang memperkaya jalannya kehidupan. Di atas tanah ini, kemajemukan dirawat dengan sangat anggun melalui perpaduan peran suku Dayak sebagai penjaga rimba, suku Banjar dan Melayu yang menghidupkan pesisir dengan nafas keislaman serta tradisi bahari, suku Kutai dan Paser yang menjaga keluhuran warisan kesultanan, hingga komunitas pendatang dari berbagai pelosok Nusantara yang membawa warna serta dinamika baru. Islam memandang seluruh perbedaan fisik, bahasa, dan asal-usul geografis ini bukan sebagai benteng penyekat, melainkan sebagai undangan suci dari Sang Pencipta untuk saling mengenal dan memahami (ta’aruf), sebagaimana yang diamanatkan
dalam QS. Al-Hujurat ayat 13.
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Mahateliti.
Esensi ta’aruf di Kalimantan bergerak melampaui sekadar bertukar identitas; ia adalah sebuah proses mendalam untuk menghargai kearifan lokal sesama dan menyadari kesetaraan kita sebagai hamba Allah yang mendiami bumi yang sama. Manifestasi keindahan ini terpancar nyata dalam harmoni kehidupan sehari-hari seperti saat alunan sapeh Dayak berpadu dengan syair madihin Banjar di tepian Mahakam atau Barito di mana tidak ada satu golongan pun yang merasa lebih superior karena Islam menegaskan bahwa kemuliaan sejati hanya diukur dari kadar ketakwaan, bukan garis keturunan. Pada akhirnya, perjumpaan lintas budaya ini mengajarkan kita seni hidup berdampingan yang tulus, di mana ketika ego kelompok dilebur ke dalam semangat persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah), Borneo menjelma bagai taman raksasa yang menawan tempat aneka bunga berbeda warna dan keharuman dapat tumbuh subur bersama di bawah naungan rasa syukur yang satu.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
رواه مسلم
Terjemah : Dari Abu Hurairah semoga Allah Meridhoinya ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.
Perawi : HR. Muslim
SUKU SUKU YANG ADA DIKALIMANTAN

SUKU DAYAK

SUKU BANJAR

SUKU TIDUNG

SUKU MELAYU

SUKU BUGIS
Sebagai wilayah luas yang tersohor dengan julukan The Island of a Thousand Rivers, Kalimantan mengintegrasikan eksotisme alam tropisnya dengan pluralitas peradaban dari lima komunitas suku utama yang saling bertaut membentuk mosaik kultural khas di tanah Borneo, di mana fondasi awalnya ditegakkan oleh Suku Dayak selaku pilar pribumi pedalaman yang merawat sinergi magis bersama alam lewat sistem sosial rumah betang serta estetika visual motif enggang, yang kemudian berpadu selaras dengan ketangguhan eksodus Suku Bugis asal Sulawesi yang menyuntikkan etos niaga, ketahanan bahari, beserta legasi tekstil Sarung Samarinda di area pesisir, lalu semakin disempurnakan oleh eksistensi Suku Banjar di sektor selatan yang mengasimilasikan corak kehidupan air dengan nilai-nilai Islami, keunikan transaksi ekonomi Pasar Terapung, serta simbolisme selembar kain sasirangan, diikuti oleh jejak Suku Melayu di kawasan barat yang menonjolkan kehalusan pekerti, marwah kemegahan istana kesultanan, dan kemahiran seni tenun songket, hingga digenapi secara utuh oleh Suku Tidung di garis pantai utara yang mengadopsi corak pesisir Islami dari akar genealogis Dayak seraya konsisten menggelar ritus syukur bahari larung perahu Padaw Tujuh Dulung dalam momentum Festival Iraw Tengkayu, sehingga pada akhirnya, seluruh dinamika perbedaan arsitektur, bahasa, serta rekam jejak historis antar-kelompok ini tidak melahirkan friksi, melainkan melekat erat dalam ikatan perkawinan silang dan asimilasi sosial yang harmonis, yang membuktikan bahwa potret kemajemukan di Kalimantan merupakan representasi abadi dari keagungan identitas budaya Nusantara yang tetap berdiri tegak melintasi gerak modernisasi.