15. Menahan amarah demi kerukunan


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ ” لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ “.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah (semoga damai atasnya) bersabda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang mengalahkan orang lain dengan kekuatannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mengendalikan dirinya saat marah.

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini mengulas salah satu pilar utama akhlak Islam, yaitu pengelolaan emosi dan penguasaan diri saat menghadapi amarah.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat (selalu menang bertarung), melainkan orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Makna dan Pemahaman Ulama
Redefinis Konsep “Kekuatan”: Kata ash-shura’ah merujuk pada seseorang yang sangat mahir bergulat dan selalu berhasil menjatuhkan lawannya dalam pertarungan fisik. Secara naluriah, masyarakat sering menilai seseorang itu tangguh dari kehebatan fisiknya. Namun, Rasulullah ﷺ mengoreksi pemahaman tersebut dengan menetapkan standar kekuatan yang jauh lebih tinggi, yaitu kekuatan jiwa.
Hakikat Pertempuran Batin (Mujahadatun Nafs): Menundukkan musuh di luar diri relatif lebih mudah karena musuh terlihat jelas. Sebaliknya, menundukkan amarah dan hawa nafsu dari dalam diri memerlukan daya juang spiritual yang luar biasa. Saat seseorang diselimuti amarah, gejolak emosi menuntut untuk dilampiaskan melalui ucapan keras atau tindakan destruktif. Mampu menahan diri pada puncak emosi tersebut adalah bukti kematapan iman dan akal sehat.
Dampak Kerusakan Amarah: Para ulama menjelaskan bahwa amarah adalah pemicu berbagai kejahatan, mulai dari terputusnya tali silaturahmi, tindakan zalim, perkelahian, hingga pertumpahan darah. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan amarah bernilai sangat tinggi di sisi Allah.
Relevance dan Penerapan di Bumi Borneo (Kalimantan)
Bumi Borneo dikenal sebagai kawasan yang kaya akan keanekaragaman etnis, tradisi, dan latar belakang budaya. Pengamalan pesan hadis ini memiliki peran strategis dalam menjaga dinamika sosial di Kalimantan:

1. Menjaga Kedamaian di Tengah Keberagaman Dalam kehidupan bermasyarakat yang heterogen di Kalimantan—yang dihuni oleh suku Dayak, Banjar, Paser, Kutai, Melayu, hingga pelbagai suku pendatang—gesekan sosial atau kesalahpahaman antarnasabah sangat mungkin timbul. Hadis ini mengajarkan agar setiap individu tidak mengedepankan emosi saat terjadi selisih paham, melainkan mengutamakan kesabaran dan dialog agar potensi konflik dapat diredam sejak dini.

2. Menyatu dengan Nilai Ksatria dan Kearifan Lokal Masyarakat adat di Bumi Borneo sangat menghormati ketangguhan, keberanian, dan kehormatan. Namun, kearifan lokal Kalimantan juga menekankan pentingnya kebijaksanaan, kesabaran, dan penghormatan terhadap sesama (adat bertatak krama). Hadis ini menegaskan bahwa karakter ksatria sejati di tanah Borneo bukan dilihat dari sikap gampang tersulut emosi atau mengandalkan kekuatan fisik, melainkan dari kedewasaan dalam menguasai diri dan menjaga keharmonisan bersama.

3. Mencegah Provokasi di Era Informasi dan Pembangunan Seiring pesatnya pembangunan infrastruktur serta hadirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan, arus interaksi dan penyebaran informasi melalui media sosial bergerak sangat cepat. Ujaran kebencian, isu SARA, atau berita provokatif kerap menjadi pemicu amarah massal. Implementasi hadis ini menuntut warga Borneo untuk tidak mudah terpancing emosi oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya, melainkan tetap tenang dan berfikir jernih demi menjaga kondusivitas daerah.

4. Membangun Keluarga dan Komunitas yang Harmonis Pengendalian amarah tidak hanya berlaku dalam ruang publik, tetapi juga dalam lingkup domestik. Menahan amarah saat menghadapi dinamika rumah tangga atau lingkungan tetangga di tanah Kalimantan akan melahirkan generasi yang santun, adil, serta jauh dari tindak kekerasan.

Dengan menjadikan pengendalian diri sebagai tolok ukur kekuatan sejati, masyarakat di Bumi Borneo dapat terus merawat persaudaraan, menjaga kedamaian di atas kebhinekaan, dan membangun peradaban yang berakhlak mulia.