Pengertian Adam


Sifat mustahil bagi Allah yang pertama adalah
Adam yang artinya bukan siapa-siapa. Dia tidak mungkin seperti itu, sebab Allah itu sudah pasti ada.Sebagaimana yang tertuang dalam Aurat An-Nahl ayat 3:

خَلَقَ پلَسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ ۚ تَعلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُ ونَ

Artinya: Dia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Tuhan lebih tinggi dari apa yang dipersekutukannya. (QS. An-Nahl: 3).

 

Dengan rasa tidak percaya dan heran menghadapi keragu-raguan mereka akan adanya Allah dan keesaan-Nya, para rasul itu, kemudian, mengatakan kepada kaum mereka masing-masing, “Apakah ada keraguan mengenai adanya Allah dan keesaan-Nya sebagai Tuhan, padahal Dia adalah pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Dia menyeru kalian agar Dia mengampuni dosa-dosa yang kalian lakukan sebelum beriman, dan membiarkan kalian tetap hidup sampai datang ajal?” Dengan keras kepala, mereka mengatakan kepada rasul masing-masing, “Kalian hanyalah manusia seperti kami. Tidak ada kelebihan yang membuat kalian berhak menjadi rasul. ( Tafsir Ibnu Katsir )

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan   bahwa Allah mustahil bersifat Adam (tidak ada), karena para rasul dengan heran mempertanyakan bagaimana mungkin ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi. Sesuatu yang tidak ada tidak mungkin mencipta, sehingga keraguan kaum tersebut terbantahkan dan keberadaan Allah (Wujud) menjadi pasti.