حَدَّثَنَا مِنْجَابُ بْنُ الْحَارِثِ التَّمِيمِيُّ، وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ، كِلَاهُمَا عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُسْهِرٍ، قَالَ مِنْجَابٌ: أَخْبَرَنَا ابْنُ مُسْهِرٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.
(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Telah menceritakan kepada kami Minjab bin Al-Harits At-Tamimi dan Suwaid bin Sa’id, keduanya dari Ali bin Mus-hir. Minjab berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Mus-hir, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”
Lalu ada seseorang bertanya,
“Sesungguhnya seseorang senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”
Beliau menjawab,
“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
(Hr. Muslim)
Kandungan Hadis
- Kesombongan merupakan dosa besar yang menghalangi seseorang dari kesempurnaan iman dan menjadi sebab ancaman tidak masuk surga apabila tidak bertaubat.
Rasulullah ﷺ menjelaskan definisi kesombongan, yaitu:بَطَرُ الْحَقِّ (baṭarul-ḥaqq): menolak kebenaran setelah mengetahuinya.
غَمْطُ النَّاسِ (ghamṭun-nās): merendahkan, menghina, atau memandang rendah orang lain. - Berpenampilan rapi dan indah bukanlah kesombongan. Islam membolehkan memakai pakaian yang baik selama tidak disertai sifat sombong atau riya’.
- Hadis ini mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak diukur dari penampilan atau hartanya, melainkan dari
- kerendahan hati dan penerimaannya terhadap kebenaran.
- Dalam perspektif psikologi Islam, kesombongan merupakan penyakit hati yang dapat merusak hubungan sosial, menghambat perkembangan diri, dan menjauhkan seseorang dari hidayah Allah. Sebaliknya, sikap
- tawaduk (rendah hati) mendukung kesehatan spiritual dan hubungan interpersonal yang sehat.