عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.
(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ (rendah hati), sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri terhadap orang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.”
(Hr. Muslim)
Kandungan Hadis
- Tawadhu’ merupakan perintah langsung dari Allah yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ sebagai pedoman bagi seluruh umat Islam.
- Islam melarang sikap merasa lebih tinggi (superior) karena kemuliaan seseorang di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya, bukan oleh harta, jabatan, keturunan, atau status sosial.
- Kesombongan sering menjadi penyebab kezaliman, sebab orang yang merasa lebih tinggi cenderung merendahkan, meremehkan, atau memperlakukan orang lain secara tidak adil.
- Sikap tawadhu’ menciptakan hubungan sosial yang harmonis, karena setiap individu saling menghormati dan tidak merasa lebih mulia daripada yang lain.
- Dalam perspektif psikologi Islam, tawadhu’ membantu seseorang memiliki konsep diri yang sehat (healthy self-concept). Seseorang mampu menghargai dirinya tanpa harus merasa lebih hebat daripada orang lain, sehingga terhindar dari sifat narsistik, superioritas, dan kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan.