حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ ـ هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ ـ عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضي الله عنه
أَنَّ رَجُلًا، قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ أَوْصِنِي، قَالَ: لَا تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لَا تَغْضَبْ.
(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)
Dari Abu Hurairah r.a., seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, “Berilah aku nasihat.” Beliau bersabda:
“Jangan marah.”
aki-laki itu mengulang permintaannya beberapa kali, namun Nabi ﷺ tetap bersabda:
“Jangan marah.”
(Hr. Bukhori)
Kandungan Hadis
- Rasulullah ﷺ menjadikan pengendalian amarah sebagai nasihat yang sangat penting.
- Marah yang tidak terkendali dapat merusak kesehatan mental, hubungan sosial, dan kualitas ibadah.
- Islam mengajarkan pengendalian emosi melalui kesabaran, zikir, dan penguasaan diri.
- Orang yang mampu menahan amarah cenderung memiliki ketenangan jiwa dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
- Hadis ini menjadi salah satu landasan pembinaan kesehatan mental melalui pengelolaan emosi.