حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي السَّوَّارِ الْعَدَوِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.)
Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah, dari Abu as-Sawwar al-‘Adawi, dari Abu Hurairah r.a. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(Hr. Bukhori & Muslim)
Kandungan Hadis
- Ukuran kekuatan menurut Islam bukanlah kekuatan fisik, melainkan kemampuan mengendalikan emosi.
- Pengendalian diri merupakan salah satu indikator kesehatan mental yang baik.Seseorang yang mampu
- menahan amarah akan lebih mudah menyelesaikan masalah secara bijaksana.
- Hadis ini mengajarkan pentingnya kecerdasan emosional (emotional regulation) dalam kehidupan sehari-hari.
- Penguasaan diri saat marah merupakan akhlak mulia yang dicintai Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.