حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ شَرِيكٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman al-Muqri, dari Sa’id bin Abi Ayyub, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Syurahbil bin Syarik, dari Abu Abdirrahman al-Hubali, dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh amat beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah memberinya sifat qana‘ah atas apa yang telah diberikan kepadanya”
Hadis mulia ini merumuskan tiga kunci utama untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan sejati dalam kehidupan seorang mukmin. Pertama, hidayah Islam sebagai fondasi spiritual terbesar. Kedua, kecukupan rezeki secara materi (kafafan), yaitu kondisi finansial yang pas untuk memenuhi kebutuhan pokok tanpa berlebihan sehingga tidak melalaikan ibadah, namun juga tidak kekurangan yang dapat mendekatkan pada kekufuran.
Ketiga, dan yang paling krusial dalam tata kelola keuangan islami (Smart Muslim Finance), adalah sifat qana’ah yaitu kondisi hati yang selalu rida, merasa cukup, dan bersyukur atas segala karunia yang Allah berikan. Sifat qana’ah inilah yang membebaskan seorang muslim dari siksaan rasa tidak puas, keserakahan, dan gaya hidup konsumtif demi mengejar gengsi duniawi. Orang yang memiliki qana’ah akan selalu merasa kaya karena ukuran kekayaan sejati terletak pada hati yang lapang, bukan pada jumlah tumpukan harta. Dengan memadukan aspek iman, kecukupan materi, dan keridaan hati, seseorang akan mencapai kehidupan yang tenang, berkah, dan bahagia di dunia hingga akhirat.