HR. AHMAD: 6408


حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا غَيْرَ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ وَقَالَ يَزِيدُ مَرَّةً فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

artinya:

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Hammam dari Qatadah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata, Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan.”

Kesempatan lain Yazid berkata, “Dengan tidak israf (berlebihan), dan tidak sombong.”

 

Hadis ini merupakan panduan emas dalam konsep Smart Muslim Finance mengenai bagaimana seorang muslim seharusnya mengelola konsumsi dan gaya hidup sehari-hari. Rasulullah ﷺ memberikan kebebasan bagi umatnya untuk menikmati karunia Allah mulai dari makanan, minuman, hingga pakaian dan bahkan sangat menganjurkan untuk bersedekah. Namun, kebebasan konsumsi ini dibatasi oleh dua rambu spiritual yang sangat tegas: larangan israf (berlebih-lebihan) dan larangan khuyala (sombong/pamer).

Dalam dunia modern, hadis ini menjadi kritik tajam terhadap budaya konsumtif dan fenomena flexing atau ajang pamer kekayaan. Israf terjadi ketika kita membelanjakan harta melampaui batas kebutuhan nyata atau membuang-buang sumber daya secara sia-sia. Sementara kesombongan muncul saat motivasi kita dalam berpakaian atau mengonsumsi sesuatu didorong oleh keinginan agar dinilai lebih tinggi dan mulia daripada orang lain.

Seorang muslim yang bijak secara finansial akan memperlakukan harta sebagai amanah. Ia menikmati rezeki secukupnya dengan penuh rasa syukur, menjaga kesederhanaan, serta memastikan bahwa pengeluaran hartanya tidak terjebak dalam lingkaran egoisme maupun pemborosan, sehingga keberkahan hartanya tetap terjaga di dunia hingga akhirat.