QS. AL-A’RAF: 31


 يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
artinya:
Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Ayat yang mulia ini memberikan tuntunan komprehensif mengenai etika berbusana dan pola konsumsi yang ideal bagi seorang muslim. Allah SWT menyeru seluruh umat manusia untuk menjaga kehormatan diri dengan mengenakan pakaian yang bersih, rapi, dan indah bukan pakaian yang seadanya atau kotor terutama saat hendak mendirikan salat atau memasuki masjid. Perintah ini mengajarkan nilai estetika, kerapian, serta penghormatan yang tinggi terhadap tempat ibadah dan menghadap Sang Pencipta, sekaligus mematahkan anggapan keliru bahwa beragama harus tampil lusuh.

Setelah mengatur penampilan luar, Allah SWT menyambungnya dengan regulasi pemenuhan kebutuhan biologis melalui perintah makan dan minum. Islam adalah agama yang fitrah, yang tidak melarang umatnya menikmati kelezatan rezeki duniawi yang halal dan baik. Namun, Allah meletakkan batasan mutlak, yaitu larangan keras untuk bersikap berlebihan (israf). Perilaku berlebihan ini mencakup mengonsumsi sesuatu melampaui kapasitas kebutuhan tubuh, membuang-buang makanan secara sia-sia, hingga membelanjakan harta demi gengsi dan keserakahan.

Dalam tinjauan Smart Muslim Finance dan kesehatan, pembatasan ini sangat krusial. Konsumsi yang berlebih-lebihan tidak hanya merusak anggaran keuangan individu dan memicu pemborosan harta yang tidak berkah, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan fisik serta mengeraskan hati secara spiritual. Penutup ayat ini menjadi peringatan moral yang sangat mendalam: Allah secara tegas tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Oleh karena itu, prinsip moderasi, kesederhanaan, dan rasa syukur harus selalu menjadi fondasi utama dalam setiap aktivitas konsumsi seorang hamba.