QS. AL-MULK 15


هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
 artinya:
Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Ayat yang mulia ini merupakan dorongan teologis dan motivasi kuat bagi umat Islam untuk bersikap produktif, dinamis, dan mandiri secara ekonomi. Allah SWT menegaskan bahwa Dia telah mendesain bumi ini dalam keadaan tunduk dan mudah dimanfaatkan (dzalula) demi kemaslahatan manusia. Infrastruktur alam semesta, mulai dari tanah yang subur hingga kekayaan laut, diciptakan siap olah agar manusia dapat melangsungkan kehidupan dengan baik.

Melalui perintah “jelajahilah segala penjurunya”, Islam melarang keras umatnya bersikap malas, pasif, atau sekadar berpangku tangan menunggu keajaiban rezeki. Seorang muslim dituntut untuk melakukan mobilitas fisik, riset, perniagaan, dan ekspansi usaha ke berbagai belahan dunia guna menjemput karunia-Nya. Rezeki tidak datang secara instan, melainkan harus dijemput melalui ikhtiar yang terencana, aktif, dan profesional.

Namun, kebebasan mengeksploitasi potensi bumi ini diikat dengan kesadaran eskatologis di akhir ayat. Allah mengingatkan bahwa tempat kembali akhir dari segala pergerakan manusia adalah hari kebangkitan di hadapan-Nya. Kesadaran ini mendidik setiap mukmin agar selalu menjaga integritas, menjauhi praktik haram, serta memastikan bahwa setiap harta yang diperoleh dari hasil penjelajahannya di bumi didapatkan dengan cara yang halal dan dipertanggungjawabkan dengan benar.