يا كعبُ بنَ عُجْرةَ إنَّه لا يدخُلُ الجنَّةَ لحمٌ ودمٌ نبَتا على سُحتٍ النَّارُ أَوْلى به يا كعبُ بنَ عُجْرةَ النَّاسُ غاديانِ:
فغادٍ في فِكاكِ نفسِه فمُعتِقُها وغادٍ موبِقُها يا كعبُ بنَ عُجْرةَ الصَّلاةُ قربانٌ والصَّدقةُ برهانٌ والصَّومُ جُنَّةٌ والصَّدقةُ تُطفِئ الخطيئةَ كما يذهَبُ الجليدُ على الصَّف
artinya:
“Wahai Ka’b bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari harta yang haram (suht), neraka lebih utama baginya. Wahai Ka’b bin ‘Ujrah, manusia itu keluar di pagi hari dalam dua keadaan: ada orang yang berusaha membebaskan dirinya (dari dosa) lalu ia memerdekakannya, dan ada orang yang menjerumuskan dirinya sendiri (ke dalam maksiat) lalu membinasakannya. Wahai Ka’b bin ‘Ujrah, shalat itu adalah pendekatan diri, sedekah itu adalah bukti (burhan), puasa itu adalah perisai, dan sedekah itu dapat menghapuskan dosa sebagaimana es yang mencair di atas batu yang licin.”
Hadis yang sangat mendalam ini memberikan fondasi yang kokoh mengenai manajemen spiritual dan finansial seorang muslim (Smart Muslim Finance). Rasulullah SAW secara tegas memperingatkan Ka’b bin ‘Ujrah dan seluruh umat Islam tentang bahaya laten harta haram (suht). Harta yang diperoleh dari jalan yang tidak benar, seperti korupsi, manipulasi, riba, atau menipu, akan mengalir menjadi darah dan daging di dalam tubuh. Dampak spiritualnya sangat fatal: menghalangi seseorang masuk surga dan membuat doa-doa yang dipanjatkan tertolak, karena Allah hanya menerima yang baik dan halal.
Lebih lanjut, hadis ini membagi manusia ke dalam dua tipe dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tipe pertama adalah mereka yang menginvestasikan waktu dan hartanya untuk ketaatan, sehingga mereka berhasil memerdekakan diri dari siksa neraka. Tipe kedua adalah mereka yang diperbudak oleh nafsu duniawi dan keserakahan finansial, sehingga aktivitas harian mereka justru membinasakan diri sendiri.
Sebagai solusi dan penyeimbang kehidupan, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa ibadah spiritual seperti shalat dan puasa bertindak sebagai pembersih jiwa dan benteng pertahanan dari godaan maksiat. Sementara itu, dalam aspek finansial, sedekah disebut sebagai burhan (bukti nyata keimanan seseorang). Mengeluarkan harta untuk berbagi membuktikan bahwa hati kita tidak terikat oleh dunia. Sedekah yang tulus juga memiliki kekuatan luar biasa untuk melebur dosa-dosa masa lalu, layaknya es yang mencair tanpa bekas di atas batu yang licin, membawa keberkahan dan membersihkan sisa-sisa harta kita.