حَدَّثَنَا ابْنُ مُقَاتِلٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا الأَوْزَاعِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«فَلَا تَفْع، صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا»
Arti: “…Jangan lakukan itu (beribadah sepanjang malam tanpa rehat)! Berpuasalah dan berbukalah, bangunlah (salat) dan tidurlah. Karena sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu…”
Pesan Utama:
- Fisik manusia memiliki batasan biologis yang wajib dihormati dan dipenuhi hak rehatnya.
- Eksploitasi tubuh secara berlebihan demi tujuan apa pun adalah tindakan yang keliru menurut agama.
- Tidur dan istirahat yang cukup merupakan bagian dari pemenuhan keadilan terhadap diri sendiri.
Nabi ﷺ menegur keras Abdullah bin Amru yang menguras energinya untuk beribadah sepanjang malam tanpa tidur dan berpuasa setiap hari tanpa jeda. Hadis ini menegaskan aspek physical well-being (kesehatan fisik). Tubuh, organ, dan mata kita memiliki hak atas energi, nutrisi, dan waktu istirahat yang cukup. Mengabaikan hak kesehatan fisik demi ambisi karir, tugas, atau bahkan ibadah ritual sekalipun dinilai sebagai bentuk kezaliman terhadap diri sendiri.
Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (No. 1975) & Ṣaḥīḥ Muslim (No. 1159).