Larangan Mempersulit Diri Dalam Agama


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

«إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ»

Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, dia berkata: Malik telah mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Shihab, dari Said bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:

Arti: “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit diri dalam urusan agama melainkan agama itu akan mengalahkannya (ia akan lelah sendiri). Maka bersikap luruslah, mendekatlah pada kesempurnaan, berikan kabar gembira, dan mohonlah pertolongan (beribadah) di waktu pagi, sore, dan sebagian malam.”

Pesan Utama:

  1. Aturan-aturan dalam Islam pada dasarnya fleksibel dan dirancang untuk mempermudah hidup manusia.
  2. Sikap memaksakan diri di luar batas kemampuan hanya akan berakhir pada kegagalan dan keputusasaan.
  3. Pentingnya pembagian waktu yang cerdas (pagi, sore, dan malam) untuk menjaga ritme kerja dan ibadah.

Hadis ini memberikan pesan psikologis bahwa kesempurnaan mutlak bukanlah syarat utama untuk dicintai Allah; yang terpenting adalah usaha maksimal yang konsisten dan terukur (bersikap lurus dan mendekatlah pada kesempurnaan). Nabi ﷺ mengingatkan bahwa jika kita membuat aturan hidup atau ibadah yang terlalu kaku dan menyiksa diri, pada akhirnya kita akan kelelahan sendiri (burnout). Kita disarankan untuk memanfaatkan waktu-waktu produktif (pagi dan sore) serta waktu tenang (malam) secara proporsional.

Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Iman, No. 39.