Melatih Ketenangan Pikiran dengan Selalu Mengingat Allah


 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَجَعَلَ النَّناسُ يَجْهَرُونَ بِالتَّكْبِيرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا»

Kami pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan, lalu orang-orang meninggikan suara mereka saat bertakbir. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Wahai manusia, kasihanilah diri kalian (bersikap tenanglah). Sesungguhnya kalian tidak sedang menyeru zat yang tuli maupun jauh, melainkan kalian sedang menyeru Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat.”

Pesan Utama:

  1. Islam melarang sikap tergesa-gesa, panik, atau berlebihan dalam mengekspresikan sesuatu.
  2. Menjaga ketenangan batin (inner peace) dengan menyadari kedekatan Allah di setiap kondisi.
  3. Spiritualitas sejati dicapai melalui kekhusyukan dan ketenangan, bukan ketegangan fisik atau emosi yang meledak-ledak.

Rasulullah ﷺ meluruskan para sahabat agar tidak menguras energi emosional mereka secara berlebihan saat berzikir. Dalam mengelola kesehatan mental, hadis ini mengajarkan kita untuk menjaga ketenangan batin (mindfulness) dalam menghadapi tekanan hidup. Mengetahui bahwa Tuhan selalu mendengar keluh kesah kita dengan dekat akan meredakan kecemasan kerja (work anxiety) dan menjaga stabilitas jiwa kita tetap tenang.

Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, No. 6407 & Ṣaḥīḥ Muslim, No. 2737.