Kurva Pertumbuhan Spirulina sp.


Optical density (OD) digunakan sebagai indikator pertumbuhan Spirulina sp. dan diukur pada panjang gelombang 680 nm yang merepresentasikan serapan pigmen fotosintetik utama. Nilai OD mencerminkan kepadatan sel dalam kultur, sehingga peningkatan OD menunjukkan akumulasi biomassa selama kultivasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan Spirulina platensis dipengaruhi oleh jenis media nutrisi yang digunakan. Media BG-11 menghasilkan pertumbuhan tertinggi, diikuti oleh media Zarrouk, sementara media GA menunjukkan pertumbuhan paling rendah. Pertumbuhan Spirulina platensis pada media GA juga terlihat lebih cepat memasuki fase stasioner dan kematian, yang menunjukkan bahwa media ini tidak seefektif dua media lainnya dalam mendukung pertumbuhan. Perbedaan ini disebabkan oleh tidak adanya karbon anorganik dalam media GA, padahal unsur tersebut penting bagi mikroalga. Spirulina platensis merupakan organisme fotoautotrof yang membutuhkan karbon anorganik seperti karbon dioksida untuk membentuk makanannya sendiri melalui fotosintesis (Zhang et al., 2023).

Kurva pertumbuhan Spirulina sp. menunjukkan pola pertumbuhan umum mikroalga selama 15 hari masa kultivasi. Rentang nilai OD pada media Zarrouk sebesar 0,349 ± 0,062 hingga 1,003 ± 0,146, media BG-11 sebesar 0,350 ± 0,045 hingga 1,031 ± 0,103, dan media GA sebesar 0,321 ± 0,057 hingga 0,889 ± 0,129. Nilai OD tertinggi terjadi serentak pada hari ke-9, masing-masing sebesar 1,321 ± 0,029 pada media Zarrouk, 1,453 ± 0,056 pada media BG-11, dan 1,171 ± 0,153 pada media GA. Peningkatan nilai OD selama kultivasi menunjukkan fase eksponensial yang ditandai dengan pembelahan sel aktif dan peningkatan biomassa. Nilai OD yang stabil setelah hari ke-9 mencerminkan fase stasioner, sedangkan penurunan OD pada hari ke-14 mengindikasikan transisi menuju fase kematian.

Nilai OD Spirulina sp. pada media GA tercatat lebih rendah dibandingkan dengan media Zarrouk dan BG-11. Kandungan nutrisi dalam media juga turut memengaruhi pola pertumbuhan. Spirulina sp. merupakan organisme fotoautotrof yang mampu menghasilkan makanan sendiri dari karbon anorganik seperti karbon dioksida dengan bantuan energi cahaya (Zhang et al. 2023). Media Zarrouk dan BG-11 mengandung karbon anorganik berupa NaHCO₃ dan Na₂CO₃ yang dapat dimanfaatkan dalam proses fotosintesis. Media GA hanya mengandung karbon organik dari plant catalyst, yang memiliki kadar karbon sebesar 6,47%, namun tidak dapat dimanfaatkan secara efisien oleh Spirulina sp. Poonia dan Priya (2013) menyatakan bahwa Spirulina sp. merupakan fotoautotrof obligat yang membutuhkan cahaya dan karbon anorganik secara mutlak untuk tumbuh, sehingga tidak mampu memanfaatkan karbon organik maupun berkembang dalam kondisi gelap. peningkatan jumlah sel  juga dapat dilihat pada perubahan intensitas warna kultivasi sebagaimana gambar dibawah.

Peningkatan kepadatan sel selama kultivasi umumnya disebabkan oleh aktivitas pembelahan sel yang dipicu oleh beberapa faktor pendukung. Ketersediaan nutrisi yang optimal, khususnya karbon, serta intensitas cahaya tinggi sebagai sumber energi, berperan penting dalam mendorong pertumbuhan Spirulina sp. Kondisi lingkungan yang terkontrol, seperti suhu, pH, dan aerasi yang sesuai, juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan laju pembelahan. Selain faktor- faktor tersebut, tekanan mekanis seperti gaya geser atau kontak antar sel dapat memicu pembelahan sel sebagai respons terhadap stres fisik (Jung et al. 2019).