Pengertian dan Sifat Salbiyah


Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan patut bagi Allah SWT, sebab Allah Maha sempurna dan tidak memilikimkekurangan.Maksudnya sifat salbiyah ialah sifat yang menolak apa yang tidak layak bagi Allah. Seperti Allah tidak dengan tubuh, tidak dengan fisik, dan hal ini tidak ada yang bisa menentangnya. Salbiyah juga bisa diistilahkan dengan sifat yang digunakan untuk meniadakan sesuatu yang tidak layak bagi Allah. Sifat Salbiyah ini ada lima sifat yakni, Qidam, Baqo’, Mukhalafatu lil hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyyah.

1. Qidam artinya Sedia/terdahulu/tidak ada permulaanya. Sifat qidam menunjukkan bahwa Allah selalu ada, tanpa pernah tidak ada. Keberadaan Allah tidak memiliki titik awal atau akhir. Berbeda dengan makhluk ciptaan, seperti manusia yang melalui proses penciptaan dari sel sperma dan sel telur, Allah tidak terikat oleh waktu dan proses penciptaan. Sedangkan Allah tidak memiliki permulaaan yang mendahuluinya. Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 3 yang berbunyi :

هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ ﴿٣﴾

Artinya : Dialah Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, dan Mahabatin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

(Dialah Yang Awal) sebelum segala sesuatu ada, keawalan Dia tidak ada permulaannya (dan Yang Akhir) sesudah segala sesuatu berakhir, keakhiran-Nya tanpa batas (dan Yang Maha Zahir) melalui bukti-bukti yang menunjukkan kezahiran Nya (dan Yang Batin) yakni tidak dapat dilihat dan ditemukan oleh panca indra (dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu). ( Tafsir Jalalain )  Pernyataan “Dialah Yang Awal” menunjukkan sifat Qidam Allah, yaitu bahwa Allah ada sebelum segala sesuatu tanpa permulaan. Keberadaan-Nya tidak didahului oleh ketiadaan, sehingga Allah bukan makhluk dan tidak bergantung pada apa pun. Dengan sifat Qidam ini, Allah adalah Dzat Yang Maha Dahulu atas seluruh ciptaan.

2. Baqa’artinya Kekal. Maknanya adalah Allah itu bersifat kekal. Mustahil Ia dikatakan fana (binasa). Salah satu argumen yangkuat untuk menyatakan kekekalan Allah ialah firman Allah dalam surah Al-Qashash ayat 88 :

وَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ لَهُ ٱلْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿٨٨﴾

Artinya : Jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan (Janganlah kamu seru) janganlah kamu sembah (di samping Allah, tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Dia) kecuali Allah. (Bagi-Nya-lah segala penentuan) yakni, keputusan yang terlaksana (dan hanya kepada-Nya-lah kalian dikembalikan) setelah kalian dibangkitkan dari kubur masing-masing.

Tafsir ini menjelaskan bahwa Allah itu Baqā’, artinya Allah kekal dan tidak akan pernah binasa. Semua makhluk bisa hilang dan berakhir, tetapi Allah tetap ada selamanya. Karena itu, hanya Allah yang patut disembah dan kepada-Nya semua makhluk akan kembali.

Pada ayat ini, Allah melarang Nabi Muhammad menyembah sembahan lain selain Allah, karena tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, sebagaimana firman Nya:

رَّبُّ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذْهُ وَكِيلًا ﴿٩﴾

(Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung. (al-Muzzammil/73: 9)

Allah itu kekal abadi sekalipun semua makhluk yang ada sudah mati dan binasa. Firman Allah dalam Surah Ar Rahman : 26-27

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾

Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. (ar-Rahman/55: 26-27 )

3. Mukhalafah Lilhawaditsi Berarti berbeda dengan makhluk (ciptaan). Sifat ini memberikan pemahaman bahwa sangat mustahil Allah SWT serupa dengan makhluk. Dengan ini diyakini bahwa tidak ada satupun makhluk dari golongan jin, manusia, malaikat, dan lainnya. Yang serupa dengannya seperti makhluk yang bernafas, berkembang biak, makan, minum, dan lainnya. Adapun bukti yang menguatkan sifat ini adalah firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 11 :

فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَمِنَ ٱلْأَنْعَٰمِ أَزْوَٰجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya :  (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.

Penafsiran ayat Al-Qur’an Surah Asy-Syura ayat 11 ini menjelaskan sifat Allah sebagai Pencipta sempurna yang unik, dengan fokus pada ciptaan-Nya yang berpasangan untuk memungkinkan perkembangbiakan, dan juga menegaskan tauhid Allah melalui bukti ciptaan-Nya yang harmonis, seperti pasangan makhluk untuk kelangsungan hidup, sekaligus menolak segala bentuk penyerupaan dengan-Nya ( Tafsir Jalalain )

Surah Asy-Syu‘arā’ ayat 11 menegaskan bahwa Allah berbeda secara mutlak dari makhluk, baik dari segi zat, sifat, maupun perbuatan, Allah tidak mungkin diserupai oleh apa pun.

4. Qiyamuhu Binafsihi artinya emiliki arti bahwa Allah berdiri dengan dirinya sendiri, serta berdirinya tidak memerlukan tempat tertentu karena Allah Berdiri Sendiri. Dan bahwasannya Allah itu ada karenaberdiri sendiri. Dalam pengertian lain tidak memiliki hubungan dengan siapa Dia diciptakan dan tidak condong kepada sesuatu yang lainnya.

Firman Allah dalam Q.S. Al Ankabut [29]: 6

وَمَن جَٰهَدَ فَإِنَّمَا يُجَٰهِدُ لِنَفْسِهِۦٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ ﴿٦﴾

Artinya : Siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh (untuk berbuat kebajikan), sesungguhnya dia sedang berusaha untuk dirinya sendiri (karena manfaatnya kembali kepada dirinya). Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (tidak memerlukan suatu apa pun) dari alam semesta.

Dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwasanya (Dan barang siapa yang berjihad) maksudnya jihad fisik atau jihad nafsi (maka sesungghnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri) karena manfaat atau pahala dari jihadnya itu kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah. (Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari semesta alam) yaitu dari manusia, jin dan Malaikat, dalam arti kata Dia tidak memerlukan sesuatu pun dari mereka, juga Dia tidak membutuhkan ibadah mereka kepada-Nya.

5. Wahdaniyah artinya Esa. Keesaan Allah (wahdaniyah) menunjukkan kesempurnaan-Nya. Allah itu Satu, Tunggal, dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Keesaan-Nya mencakup seluruh aspek keberadaan-Nya, baik Zat, sifat, maupun perbuatan. sesuai firman-Nya dalam QS Al-Ikhlas ayat :1

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾

Artinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu’min yang memiliki keyakinan yang benar untuk melihat dan meyakini bahwa setiap kejadian yangada di alam itu semuanya merupakan Fi’il (perbuatan) Allah semata. Sifat wajib tentang ke-Esa-an Allah Swt dapat dibuktikan dalam keteraturan alam semesta sebagai wujud ciptaan Allah Swt.

Seandainya Allah Swt tidak esa, maka akan terjadi kerusakan dan ketidakteraturan alam, karena ada dua pencipta. Hal ini diperkuat oleh firman Allah dalam Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]: 22 :

لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿٢٢﴾

Artinya : “Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”(Q.S.21:22).