Tayamum menunjukkan kemudahan dalam syariat Islam, menjaga kewajiban salat, serta menjadi bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya tanpa menghilangkan nilai kesucian.
:حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ ـ هُوَ غُنْدَرٌ ـ عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، قَالَ:
قَالَ أَبُو مُوسَى لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ إِذَا لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ لاَ يُصَلِّي. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ لَوْ رَخَّصْتُ لَهُمْ فِي هَذَا، كَانَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُهُمُ الْبَرْدَ قَالَ هَكَذَا ـ يَعْنِي تَيَمَّمَ وَصَلَّى ـ قَالَ قُلْتُ فَأَيْنَ قَوْلُ عَمَّارٍ لِعُمَرَ قَالَ إِنِّي لَمْ أَرَ عُمَرَ قَنِعَ بِقَوْلِ عَمَّارٍ.
Abu Musa berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, Jika seseorang tidak mendapatkan air (untuk bersuci), apakah ia boleh meninggalkan salat?” Abdullah menjawab, “Jika kalian memberikan keringanan untuk bertayamum, niscaya mereka akan bertayamum meskipun air tersedia, hanya karena salah seorang di antara mereka merasa air itu dingin.” Abu Musa berkata, “Bagaimana dengan perkataan Ammar kepada Umar?” Abdullah menjawab, “Umar tidak merasa puas dengan keterangan Ammar.
Sahih al-Bukhari 345