Tayamum dapat diterapkan ketika:
Seseorang tidak mendapatkan air, sedang sakit, berada dalam perjalanan, atau berada dalam kondisi darurat. Setelah air tersedia dan uzur hilang, kewajiban bersuci kembali menggunakan air.
Contoh penerapan sehari-hari:
Jika Anda sedang dirawat di rumah sakit, dipasang infusan, atau memiliki luka bakar/perban yang tidak boleh terkena air, Anda cukup bertayamum sebagai pengganti wudu.
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَنْطَاكِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ خُرَيْقٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ:
خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ، ثُمَّ احْتَلَمَ، فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَال: هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ؟ فَقَالُوا: مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ، فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ: «قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ» أَوْ «يَعْصِبَ» – شَكَّ مُوسَى – عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Abdurrahman Al-Anthaki, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah, dari Az-Zubair bin Khuraiq, dari ‘Atha, dari Jabir, ia berkata: Kami keluar dalam sebuah perjalanan, lalu salah seorang dari kami terkena batu yang melukai kepalanya hingga pecah. Kemudian ia bermimpi basah (junub). Ia lalu bertanya kepada sahabat-sahabatnya: Apakah kalian menemukan keringanan (rukhshah) bagiku untuk bertayamum? Mereka menjawab: Kami tidak menemukan keringanan bagimu sementara kamu mampu menggunakan air. Maka orang tersebut mandi lalu meninggal dunia. Ketika kami tiba di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau dikabarkan tentang hal itu. Beliau pun bersabda: Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membalas mereka! Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu? Karena sesungguhnya obat dari kebodohan/ketidaktahuan adalah bertanya. Cukuplah baginya bertayamum dan memeras (atau mengikatkan) Musa ragu dengan lafaznya sehelai kain pada lukanya, kemudian mengusap di atasnya, lalu membasuh seluruh bagian tubuhnya yang lain.